Tatar Sunda memang ‘diisi’ oleh beberapa masyarakat adat yang pola hidupnya masih berlandaskan ajaran leluhur. Kasepuhan Ciptagelar yang menjadi bagian dari Kasepuhan Banten Kidul adalah salah satunya. Kasepuhan ini merupakan salah satu masyarakat adat bercorak  agraris di tatar Sunda yang masih mempertahankan pikukuh dari karuhun atau leluhur.

Masyarakat adat yang berdomisili di daerah Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan tersebar di dua Kabupaten, yakni Sukabumi dan Lebak ini menjalani kehidupannya sesuai dengan amanat karuhun mereka. Termasuk dalam hal menjaga ketersediaan pangan.

Pola produksi pangan pada masyarakat Kasepuhan Ciptagelar sendiri tak dapat dipisahkan dari sebuah gudang tempat penyimpanan cadangan makanan milik masyarakat Kasepuhan. Leuit nama gudang tersebut.

Hampir seluruh rumah di Kasepuhan Ciptagelar memiliki leuit. Dan ada salah satu leuit yang paling terkenal di kasepuhan. Leuit itu bernama si Jimat.

Si Jimat adalah leuit besar yang milik pimpinan Kasepuhan Adat Banten Kidul secara turun temurun. Letaknya berada di dekat tempat tinggal pimpinan adat atau imah gede. Sedangkan leuit milik warga Ciptagelar sering disebut leuit incu buyut.

Perbedaan kedua jenis leuit ini terletak pada kapasitasnya. Leuit incu buyut hanya mampu menampung maksimal satu ton padi. Sementara leuit Si Jimat bisa memuat hingga puluhan ton padi.

Padi yang ditampung dalam leuit si Jimat terdiri dari  padi hasil seba, atau pemberian warga Ciptagelar yang sering juga disebut para incu buyut abah. Selain itu padi hasil pertanian keluarga besar Abah Anom, pimpinan adat Banten Kidul juga ditampung di leuit si Jimat. Kini kepemimpinan adat dipegang oleh Abah Ugi, putra dari Abah Anom.

Leuit Si Jimat ini memiliki fungsi strategis bagi ketahanan pangan warga Ciptagelar. Ketika warga membutuhkan padi ketika masa panen lama tiba karena berbagai faktor, mereka bisa ‘meminjam’ padi yang ada dalam leuit Si Jimat.

Hanya dengan memohon kepada “baris kolot” selaku wakil abah, atau kepada Abah langsung sebagai pimpinan adat, warga Ciptagelar sudah bisa meminjam padi dari si Jimat. Nama warga yang meminjam padi berikut jumlah ikatan padi yang dipinjam akan dicatat oleh pimpinan adat.

Warga harus mengembalikan padi tersebut sesuai dengan volume yang dipinjam ketika panen tiba. Oleh karena adanya sistem leuit ini, tak pernah terdengar bencana kelaparan mengguncang Ciptagelar.

Jadi, meski dikelola pimpinan adat, leuit si Jimat ini memang digunakan untuk kepentingan bersama seluruh warga Ciptagelar. Ini adalah cerminan kearifan budaya warga Ciptagelar mempertahankan pola hidup warisan leluhur di bidang pangan. Walhasil ketahanan pangan dalam kehidupan Ciptagelar bukanlah angan-angan.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here