Agus Ebod Setiawan tengah meracik kopi di kafenya Jalan RSU dr Slamet, Kecamatan Tarogong Kidul, Rabu (3/5/2017). Kopi biji kuning asal Garut kini menjadi incaran sejumlah pembeli dari luar negeri.

Kopi asal Kabupaten Garut kini sudah dikenal dan memiliki cita rasa yang khas. Apalagi kopi yang berasal dari tanah Gunung Papandayan itu menjadi kopi terbaik saat coffing test di Bandung pada 2016.

Namun pengusaha kopi menyayangkan kurangnya perhatian pemerintah daerah untuk membantu promosi. Padahal di daerah lain seperti Aceh pemerintah daerah sangat mendukung hingga kopi gayo bisa dikenal luas.

Agus Ebod Setiawan, salah seorang pengusaha kopi, menuturkan kopi biji kuning asal Garut kini sudah menjadi incaran pembeli asal luar negeri. Hanya saja kopi Garut legalitasnya kini malah diambil oleh Bandung. Padahal sejarahnya, kopi biji kuning berasal dari desa Margamulya, Kecamatan Cikajang.

“Hanya ada tiga di dunia biji kuning itu dan salah satunya dari Garut. Dua lagi berasal dari Brazil dengan nama borbon dan dari Flores dengan sebutan yellow katura,” ujar Ebod saat ditemui di kafenya, Jalan RSU dr Slamet, Rabu (3/5/2017).

Ebod menyebut bantuan promosi kopi di Garut lebih banyak dilakukan oleh Pemprov Jabar dibanding Pemkab Garut. Kopi biji kuning yang diberi label kopi Ebod itu juga sudah diminta untuk ekspor oleh Pemprov Jabar.

Sejak tahun 2015, tutur Ebod, ia sudah meminta agar Pemkab Garut bisa mendukung para petani kopi untuk mempromosikan. Hingga kini, diakui Ebod kopi belum menjadi salah satu tanaman unggulan bagi Kabupaten Garut.

“Saya inginnya kopi jadi unggulan karena kopi Garut itu punya aroma yang khas. Tapi ada beberapa hal mungkin yang menjadi kendala bagi Pemkab. Soalnya Pemkab tak hanya pikirkan kopi. Masih banyak agenda lain,” ucapnya.

Sumber: Tribunnews

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here