ilustrasi nyi roro kidul

Namanya minta disamarkan, sebut saja Ayu Silindri, ia mengaku sebagai puteri angkat Nyai Roro Kidul, ratu jin yang memiliki kerajaan gaib, di Pantai Selatan.

Ayu Silindri menyatakan banyak orang mungkin percaya atau tidak percaya dengan keberadaan Nyai Roro Kidul. Itu terserah mereka.

Tapi bagi dirinya yang mengklaim bahwa Roro Kidul adalah ibu angkatnya, maka Roro Kidul adalah seperti ibunya sendiri.

Ayu Silindri yang memiliki kemampuan supranatural sejak lahir karena keturunan itu memang menyatakan Roro Kidul adalah mahluk halus sejenis jin yang bisa berubah wujud jadi apa saja.

Sebagai ratu mahluk halus yang berkuasa di air, khususnya Pantai Selatan (Samudera Pasifik), kerajaan gaib Roro Kidul memang berada di lautan.

Jadi merupakan kerajaan gaib di dalam lautan bukan lautan itu sendiri sebagai kerajaannya.

Jika dilihat dengan mata batin maka kerajaan Nyai Roro Kidul sangat megah dan penuh dengan warna keemasan.

Ayu Silindri yang berusia sekitar 19 tahun dan masih memiliki darah biru dari Keraton Kasunanan Surakarta itu mengaku dirinya diangkat oleh Roro Kidul sebagai anak ketika masih usia balita.

Sebagai anak angkat , Ayu Silindri diberi sekuntum bunga cempaka yang harum.

Bunga gaib itu jika dipasang di telinganya maka secara otomatis dirinya akan terhubung dengan dunia gaib yang bisa dimasukinya seperti Ayu hidup di dunia fana ini.

Sewaktu masih kecil dan sering berkunjung ke Kerajaan Nyai Roro Kidul, Ayu Silindri, diasuh oleh pembantu Roro Kidul yang bernama Nyai Blorong.

Dalam wujud mahluk halus Nyai Blorong berbadan ular tapi kepalanya wanita yang sangat cantik.

Layaknya sebangsa jin Nyai Blorong juga bisa berwujud apa saja.

Dalam usianya yang masih belia, Ayu Silindri kini pilih tinggal di luar negeri membantu kakak laki-lakinya berdagang.

Tapi sebagai puteri angkat yang disayangi Nyai Roro Kidul, Ayu sering juga dikunjungi ratu jin dari Pantai Selatan itu.

Bahkan dirinya pernah kecelakaan dan tulang kakinya patah pada tiga lokasi.

Namun berkat usapan gaib Nyai Roro Kidul, cedera kaki itu sembuh dalam semalam.

Sewaktu berkunjung ke pesisir Pantai Selatan, di Yogyakarta, Ayu pernah membuat heboh.

Ia baru saja makan nasi bungkus dan minta kepada Roro Kidul untuk dikirim air buat cuci tangan.

Tapi yang terjadi adalah gelombang laut yang secara perlahan naik ke daratan dan membuat panik para pengunjung pantai.

Tapi Ayu tenang-tengang saja. Usai mencuci tangan air laut pun surut lagi.

Mitos Abadi

Mitos Nyai Roro Kidul sebagaimana tersurat dalam Babad Tanah Jawi itu sampai sekarang masih ada.

Kemasyhurannya bergema hingga terekam dalam kitab-kitab ilmiah bangsa seberang.

Sudah lama mitos ini dikaji dan diteliti oleh para ahli, namun semua itu tak sanggup mengubah pandangan masyarakat Jawa akan eksistensi tokoh yang dianggapnya betul-betul ada.

Babad Tanah Jawi karya gabungan sejarah dan dongeng, memang bukan satu-satunya sumber tentang Nyai Roro Kidul.

Namun dari karya tanpa nama inilah, kisah ratu dedemit laut selatan muncul menjadi bagian dari cerita rakyat Indonesia, bukan Jawa saja.

Nyai Roro Kidul, demikian ejaan sebenarnya dari tulisan serai Babad Tanah ]awi. Tapi entah kenapa beredar dan terkenal dengan nama yang salah baca, Kanjeng Ratu Kidul!

Bahkan ada perbedaan persepsi yang meluas dan diyakininya, bahwa antara Nyai Roro Kidul dan Kanjeng Ratu Kidul itu berbeda.

Artinya, Roro Kidul itu patih, sedangkan Kanjeng Ratu Kidul itu ratunya. Namun, Babad Tanah ]awi tak menyebutkan itu.

Kisah gaib rakyat jelata ini pun lantas berkembang menjadi kisah sakral yang menuntut pertanggungjawaban religi yang sifatnya abadi.

Ya, abadi karena sesuai janji, Roro Kidul akan selalu berhubungan dengan seluruh raja Jawa keturunan Panembahan Senopati hingga kini.

Maka selama Kerajaan Mataram ada, tokoh penguasa dedemit Pulau Jawa ini akan tetap disembah untuk dimintai berkah.

Jadi ratu makhluk halus yang mendirikan bulu roma ini, sesungguhnya tidak memiliki watak jahat, bahkan sebaliknya berhati mulia karena dipercaya menjaga ketenteraman keraton dan rakyat Mataram hingga sekarang.

Memang tak salah kalau cerita besar ini kemudian disebarluaskan lewat media bacaan bergambar yang komiknya laku keras di sekitar tahun ’60-an.

Justru komik inilah yang menarik, mengingat penyajian katanya singkat dan padat, sementara gambarnya sanggup menghanyutkan daya fantasi pembaca untuk membayangkan kecantikan rupa Nyai Roro Kidul, serta kebrutalan jin, setan laknat penjaga laut selatan.

Layar perak film nasional pun tak pernah sepi dari cerita-cerita berbau mistis tentang Nyai Roro Kidul dengan serentet judul yang seram plus bumbu seks.

Yang jelas ratu sakti yang rupawan ini sudah menjadi salah satu isi khazanah kisah klasik di Indonesia.

Bahkan nampak semakin sakral, karena seringnya diperingati dalam bentuk upacara labuhan atau terpentaskan dalam teater tertutup berbentuk seni tari bedaya ketawang dan bedaya semang.

Wajar kalau kemudian mitos Nyai Roro Kidul melebihi kisah Babad Tanah ]awi dan kebesaran Kerajaan Mataram sendiri.

Lihat saja, setahun sekali Keraton Yogyakarta pasti melakukan upacara tradisi labuhan di Parangkusuma.

Labuhan adalah persembahan sesaji yang ditujukan kepada Kanjeng Ratu Kidul.

Tradisi ini dilakukan bukan sekadar gengsi keraton atau untuk kepentingan wisatawan melainkan demi keselamatan raja, keraton, dan seluruh rakyatnya.

Ambil contoh, Sri Paku Buwono XII dari Keraton Solo di penghujung tahun 1985 melakukan labuhan guna keselamatan rakyat dan keraton setelah mengalami musibah kebakaran.

Untuk menciptakan keserasian hubungan dengan Ratu Laut Selatan, Kasunanan Surakarta membangun panggung Sanggabuwana sebagai tempat pertemuan mereka berdua.

Sedangkan Kasultanan Yogyakarta memilik sumur gemuling, terowongan bawah tanah di Tamansari Keraton Yogyakarta yang konon tembus sampai laut selatan sebagai tempat hubungan mistis antara Sunan dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Tapi hubungan cinta antara raja dan ratu ini oleh sejarawan Prof. Dr. Edi Sedyawati diartikan sebagai hubungan yang bersifat adikodrati bukan hubungan seksual duniawi.

“Karena itu,” tulis Edi dalam Prisma no. 7, Juli 1991, “hubungan mereka tak pernah membuahkan anak.”

Menyinggung hubungan seksual, sejarawan IKIP Sanata Dharma Yogya, Suhardjo Hatmosuprobo, menyatakan hubungan suami-istri Raja Jawa dan Ratu Kidul itu hanya berlaku sebelum Perjanjian Gianti 1755.

Sesudah Mataram pecah terbagi dua, masing-masing raja Yogya dan Surakarta sama-sama menganggap Kanjeng Ratu sebagai eyang, bukan istri.

“Soalnya, kalau tidak begitu Kanjeng Ratu Kidul itu namanya poliandri,” katanya.

Apa pun komentar ahli, persepsi masyarakat Jawa tetaplah tak bergeming dari dulu hingga kini. Semua raja Jawa bisa berkomunikasi dengan Ratu Kidul.

Tak percaya? Sekadar contoh baca saja Tahta Untuk Rakyat hlm. 103. Jelas sekali almarhum Hamengku Buwono IX mengisahkan pengalamannya bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul setelah menjalankan laku puasa.

Katanya, ketika bulan naik, Kanjeng Ratu ini terlihat cantik sekali. Sebaliknya, saat bulan menurun dia nampak sebagai wanita tua renta.

Sumber: Tribunnews

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here