Masyarakat Sunda mengenal konsep filsafat “Silih asah, silih asih dan silih asuh”.

Silih asah mengandung makna maju bersama dalam intelektualitas, kekuatan kasih sayang yang senantiasa diciptakan dalam segala bentuk hubungan individu satu sama lain (silih asih), dan sikap mengayomi satu sama lain (silih asuh).

Semua filsafah Sunda ini bila dilaksanakan dalam kehidupan berpolitik Indonesia, niscaya kehidupan perpolitikan kita akan menjadi lebih damai dan bermanfaat.

Pertama, Silih Asah merupakan kata yang menunjukkan satu kegiatan memperuncing alat, mempertajam atau menghaluskan sesuatu. Secara terminologi, silih asah adalah saling mencerahkan pengetahuan, berbagi informasi, dan berbagi ilmu.

Dalam konteks politik Silih asah bisa dijadikan sebagai suatu pendekatan dalam komunikasi yang dilakukan oleh pemerintah terhadap masyarakat supaya terjadinya komunikasi dengan baik.

Sifat saling berbagi ilmu dan pengetahuan yang dilakukan oleh pemerintah akan menghasilkan pemahaman yang lebih cepat dimasyarakat sehingga akan tercipta kondisi pemerintahan yang kondusif.

Kedua, Silih asih merupakan satu sikap saling sayang-menyayangi.  Dalam konteks politik, silih asih bermakna bahwa sebuah sistem yang sukses bila ditopang dengan kekuatan kasih sayang yang tulus oleh para pemimpin terhadap rakyatnya maka akan timbul proses cinta tanah air ( nasionalisme ) dalam kehidupan bermasyarakat.

Aspek ketiga dalam nilai filosofis politik orang sunda adalah silih asuh. Dimana Silih asuh merupakan sikap saling mengayomi antar sesama, saling menjaga kehormatan, saling menjaga harga diri dan martabat.

Silih asuh dalam konteks politik bermakna bahwa tanggungjawab pemerintah adalah menghantarkan masyarakat ke arah yang lebih dewasa dalam berfikir, berucap, dan bertindak. Silih asuh juga dapat bermakna pembimbing, pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan politik.

Tugas pemerintah tidaklah selesai diberikan begitu saja, akan tetapi pemerintah perlu memahami apa yang menjadi dasar kebutuhan dari masyarakatnya.

Pemerintah harus bisa menjadi pengayom untuk menyatukan seluruh komponen negara dalam melaksanakan kerja-kerja pemerintahan, demi terciptanya kehidupan masyarakat yang sejahtera.

Kegagalan kondisi politik kekinian adalah bukan karena ketidaksepahaman antara pemerintah dan masyarakat terhadap situasi politik tertentu, kegagalan itu muncul karena para penjabat yang memiliki kekuasaan telah melupakan masyarakat.

Selain itu banyak politikus yang terjerumus kedalam prilaku-prilaku yang tidak terpuji menyangkut harta negara ( korupsi ), baik ditataran eksekutif, legislatif bahkan yudikatif.

Hal ini menyebabkan timbulnya sikap apatisme dimasyarakat, sehingga mereka terjatuh kedalam jurang kehidupan yang pragmatis, hedonis, malas, bahkan banyak pula yang menunjukan keberpihakan politiknya tanpa mengetahui hakikat sebenarnya.

Padahal sejatinya dalam kehidupan politik memerlukan pemikiran yang cerdas dan kerja keras, bukan hanya asal gilas.

Ketiga landasan di atas cukup memberikan satu alasan besar bahwa identitas politik dalam konteks filosofis sunda memiliki makna besar bagaimana kehidupan politik itu harus dilaksanakan.

Selengkapnya : Kompasiana

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here