PENANGKARAN: Kura-kura belawa muda hasil dari pengkaran, sekarang jumlahnya sudah mencapai ratusan.

Obyek Wisata Cikuya Belawa menjadi salah satu alternatif wisata warga Jawa Barat, khususnya Cirebon dan sekitarnya. Berlokasi di Desa Belawa Kecamatan Lemahabang, obyek wisata tersebut gampang dikunjungi. Hanya 25 kilometer dari Sumber dan 12 kilometer dari Kota Cirebon.

Di Obyek Wisata Cikuya, terdapat kura-kura langka. Warga Cirebon menyebutnya dengan Kura-kura Belawa atau kura–kura dengan nama latin Aquatic Tortose Ortilia Norneensis. Obyek wisata dengan luas sekitar 200 meter persegi begitu asri. Sejumlah pohon besar rindang, ditambah adanya mata air, membuat suasa terasa nyaman.

Di lokasi tersebut ada beberapa kolam. Yakni, kolam berisi sekitar 70 kura-kura dewasa yang ditempatkan dalam satu kolam khusus. Di kolam ini, ada satu kura-kura dengan ukuran paling besar dengan bobot sekitar 30 kilogram dan berumur kurang lebih 50 tahun.

Ada juga kolam penangkaran alami dan kolam penangkaran buatan. Total, dalam dua kolam ini tak kurang dari sekitar 300 ekor kura-kura hidup dan berbagi tempat. Meski ada banyak kura-kura, pengunjung tidak diperkenankan memegang langsung. Sebab, sifat liar dari kura-kura dikhawatirkan membuat pengunjung tak senang.

Pawang Kura-kura Belawa, Yadi (49) mengatakan, tidak sedikit wisatawan yang datang dari luar negeri melihat sekaligus meneliti. Sebab, Kura-kura Belawa ini konon jenisnya hanya ada di Indonesia. “Belum lama ini ada turis dari Puerto Rico. Pernah juga ada dari Australia. Mereka ke sini untuk meneliti dan mempelajari Kura-kura Belawa,” ujarnya.

Ternyata, kura-kura Belawa pernah nyaris punah. Ya, serangan bakteri dan virus yang terjadi pada tahun 2010 nyaris menghabiskan spesies langka tersebut. Tak kurang dari 300 kura-kura dewasa dan anak-anak mati secara bertahap.

Beruntung, saat itu dinas terkait turun dan melakukan sterilisasi. Bahkan mengkarantina kura-kura yang selamat. Menurut Yadi, saat nyaris punah, setidaknya kurang dari 13 kura-kura diselamatkan. Jumlah tersebut ditambah dengan kura-kura yang berada di kolam-kolam milik warga, sehingga saat ini jumlahnya terus bertambah.

“Saat ini metode budidaya yang digunakan sudah modern. Meskipun sederhana, kita punya inkubator untuk tempat telur menetas dan kolam penangkaran untuk melepasliarkan tukik atau anak kura-kura,” ujarnya kepada Radar Cirebon (Jawa Pos Group).

Menurut Yadi, saat ini untuk kura-kura paling besar berumur sekitar 50 tahun dan berat sekitar 30 kilogram. Kura-kura tersebut menjadi maskot menggantikan kura-kura besar sebelumnya yang berumur 120 tahun dan kini diawetkan.

Kura-kura berumur 120 tahun mati pada saat terserang bakteri pada tahun 2010. “Ini yang paling besar, umurnya 50 tahun. Jumlah sekarang sudah lebih baik, ada ratusan malah,” imbuhnya sambil menunjukkan kura-kura tertua.

Untuk masuk obyek wisata tersebut, menurut Yadi, pengunjung hanya dipungut tiket masuk seharga Rp 3.000. Uang itu digunakan untuk perawatan kura-kura dan menata kawasan wisata tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: JawaPos

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here