SEORANG pekerja sedang mengupas kol di pasar Induk Maja, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka. Kini sejumlah harga kebutuhan pokok d Majalengka mulai merangkak naik, termasuk harga jengkol.

Beberapa hari menjelang Ramadan, harga beberapa jenis sembako terutama komoditas sayuran di Kabupaten Majalengka mulai naik. Yang terpantau stabil hanya daging ayam dan sapi. Kenaikan dua bahan pangan itu diperkirakan baru akan terjadi sehari menjelang puasa.

Kenaikan yang cukup signifikan terjadi pada jengkol yang kini mencapai Rp 50.000 per kilogram. Akibat terjadi kenaikan sebesar Rp 15.000 tersebut, omset penjualan pun mengalami penurunan.

Lilis, salah seorang pedagang jengkol di Pasar Kadipaten mengaku, penjualan yang biasanya mencapai 1,5 kwintal per hari kini hanya sekitar 50 hingga 60 kilogram saja per harinya. Hal itu karena banyak konsumen dan pemilik rumah makan yang menurunkan jumlah pembelian mereka. Malah banyak pula pelanggan yang mengurungkan niatnya untuk membeli. Mereka mengaku baru akan membeli lagi setelah harga stabil.

“Naiknya harga ini karena pasokan dari wilayah Sumatra menurun. Pasokan terbanyak bahkan hampir sepenuhnya dikirim dari Sumatra,” ungkap Lilis, Minggu 14 Mei 2017.

Menurut Lilis, sebelum terjadi kenaikan harga, pemilik rumah makan biasanya ada yang membeli hingga 10 kg per hari. Sekarang penjual masakan hanya membeli sekitar 3 kg saja.

Ujang, pedagang sayur lainnya mengatakan, kenaikan harga biasa terjadi menjelang bulan Ramadan serta lebaran. Alurnya, usai awal Ramadan, biasanya harga kembali turun. Lantas baru naik lagi saat akan lebaran hingga seminggu pasca lebaran.

Dia beranggapan kenaikan harga diduga akibat permainan para spekulan yang berharap untung besar dan mencekik konsumen serta pedagang kecil.

Sayuran lain

Sementara menurut para pedagang di Pasar Majalengka, kenaikan harga beberapa jenis sembako terutama sayuran sudah mulai berlangsung sejak minggu kemarin. Sebelumnya, harga masih cukup stabil.

Harga yang sudah mulai naik di pasar tersebut diantaranya bawang putih dari Rp 32.000 per kilogram menjadi Rp 52.000, cabe merah tanjung dari 10.000 per kilogram menjadi Rp 15.000, cabe merah biasa dari Rp 2.000 per kilogram menjadi Rp 12.000, cabe merah kriting dari RP 7.000 per kilogram menjadi Rp 9.000. Untuk kentang dieng naik dari Rp 14.000 per kilogram menjadi Rp 15.000. Minyak goreng curah yang semula hanya Rp 12.000 per kg kini naik menjadi Rp 15.000 per kg, telur ayam yang semula Rp 19.000 per kg kini naik menjadi Rp 23.000 per kg.

Sementara harga bawang merah dan bawang daun turun. Bawang daun yang pada bulan lalu sempat berada di kisaran Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per kilogram kini hanya Rp 7.000.

“Untuk bebrapa komoditas sayuran banyak petani yang menunda panen. Mereka baru akan memanen sayurannya pada saat menjelang puasa dengan harapan harga akan lebih mahal. Jadi wajar kalau sekarang harga sayuran banyak yang mengalami kenaikan,” ungkap Jaja.

Tak cuma sembako

Sejumlah ibu-ibu rumah tangga juga mengeluhkan terjadinya kenaikan harga sembako tersebut. Terlebih kenaikan harga berbarengan dengan kenaikan harga tarif dasar listrik (TDL).

“Sekarang listrik naik yang biasanya hanya Rp 120.000 per bulan sekarang lebih dari Rp 234.000. Kemarin waktu membayar listrik sangat kaget karena kenaikannya sangat tinggi. Mana saya harus membayar dua rumah sama rumah orang tua,” ungkap Ika seorang ibu rumah tangga ditemui di Pasar Majalengka saat berbelanja.

Hal senada disampaikan Nining warga Sumberjaya. Malah di wilayahnya selain terjadi kenaikan listrik, harga gas 3 kilogram juga sudah mengalami kenaikan. Semula Rp 17.000 per tabung di tingkat eceran kini mencapai Rp 23.000 per tabung.

“Kenaikan gas di warung ini sudah berlangsung seminggu lebih,” kata Nining.

Sumber: Pikiran-Rakyat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here