Melly Putri Faridatul Fuadah (10) digendong gurunya di sela-sela jam istirahat sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Mathlaul Hikmah Nagarakasih, Kota Tasikmalaya, Kamis (18/5/2017). Meskipun menderita lumpuh layu, Melly tetap semangat bersekolah dan berprestasi di kelas.

MENDERITA penyakit lumpuh layu atau paralisis tak mengendurkan semangat Melly Putri Faridatul Fuadah (10). Dia ingin tetap bersekolah bahkan pantang menyerah untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang dokter. Tidak ada kata putus sekolah dalam pikirannya.

Melly kini duduk di bangku kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Mathlaul Hikmah Nagarakasih I. Gadis itu sama seperti anak sekolah pada umumnya. Setiap pagi, kecuali hari Minggu, Melly selalu antusias untuk pergi ke sekolah.

Jumat, 19 Mei 2017 pun, Melly terlihat cukup bersemangat menuntut ilmu. Ibunya, Lia Dahliani (32) selalu membantu Melly mengenakan seragam putih dan batik. Lalu, Melly diantar ayahnya, Aman Suryaman (34) pergi ke sekolah.

Tepat pukul 07.00, Aman menggendong Melly menuju sekolah dari rumahnya di Kampung Nagarakasih, Kelurahan Kersanagara, Kecamatan Kota Tasikmalaya. Jarak dari rumah menuju sekolah Melly sebenarnya cukup dekat, hanya sekitar 1 kilometer. Namun, karena Aman tidak memiliki kendaraan, dia terpaksa menggendong Melly agar bisa sampai sekolah.

Menggendong adalah cara paling praktis bagi Aman untuk mengantarkan anaknya. Apalagi, dia belum dapat membelikan kursi roda anak untuk anak pertamanya itu.

Tiba di sekolah, Melly langsung digendong menuju kelasnya. Di sana, ia duduk di bangku paling depan. Namun, Melly masih harus menunggu sekitar 10 menit untuk mengikuti kegiatan belajar. Dia tidak bisa mengikuti kegiatan rutin sebelum belajar mengajar dimulai, seperti salat duha berjamaah dan mengaji di musala sekolah.

Bercita-cita jadi dokter

Melly mengaku saat awal masuk sekolah dia sempat minder karena tidak dapat berjalan. Namun, dorongan orang tua, guru, dan temannya, membuat Melly mantap untuk bersekolah meskipun harus lebih banyak menghabiskan waktu di bangkunya. Melly pun senang karena di sekolah ia mendapatkan teman-teman yang mau membantunya saat kesulitan.

“Saya ingin jadi dokter, ingin menyembuhkan orang, dan menyembuhkan diri sendiri,” kata Melly saat dijumpai.

Guru Kelas IV A MI Mathlaul Hikmah Nagarakasih 1, Ihat Farihatul pun menyatakan, Melly tergolong anak pintar di kelasnya. Bahkan, Melly sempat mengikuti berbagai perlombaan, salah satunya lomba pidato.

Ihat pun berharap, Melly dapat segera disembuhkan. Apalagi setelah menginjak kelas IV, kondisi tubuh Melly kembali drop dan kerap tidak masuk sekolah karena sakit.

“Melly pada dasarnya pintar, tetapi fisiknya lemah. Kadang suka lemas saat menulis, sehingga tugas sekolah lebih banyak dibawa pulang,” kata Ihat.

Sementara itu, Kepala Sekolah MI Mathlaul Hikmah Nagarakasih 1 Haedar Burhan menuturkan, Melly pertama kali masuk sekolah pada kelas 2. Sementara saat kelas 1, Melly lebih banyak belajar di rumah, sementara pihak sekolah datang ke rumahnya untuk sesekali memberikan pelajaran tambahan.

Masuk peringkat 10 besar

“Pertama kali didaftarkan orang tuanya. Orang tua kebetulan alumni sekolah ini, dan menceritakan keadaanya. Akhirnya diputuskan selama 1 tahun dia sekolah di rumah karena fisiknya memang belum mampu. Ujian pun digelar di rumah,” ucap Haedar.

Meskipun belajar di rumah, Haedar mengakui Melly adalah anak yang pintar. Melly sudah dapat membaca dan menulis, bahkan di sekolah dia masuk peringkat 10 besar.

“Prestasinya memang bagus, sayangnya memang keterbatasan fisik. Kami juga berharap ada yang bisa membantu alat bantu berupa kursi roda elektrik. Kursi itu akan sangat membantu Melly dalam kegiatan belajar mengajar,” kata Haedar.

Saat ini, pihak sekolah terus mendorong semangat Melly untuk terus belajar. Haedar berharap, mimpi Melly untuk bersekolah hingga jenjang kuliah bisa terwujud.

“Saya harap Melly bisa terus sekolah, jangan sampai putus sekolah. Orang tua juga harus semangat, jangan ikut drop saat kondisi Melly drop,” kata Haedar.

Bersyukur dan bersemangat

Ayah Melly, Aman menuturkan, gejala lumpuh layu sudah ditunjukkan Melly sejak usia 1,5 tahun. Pada saat itu, Melly belum juga bisa berjalan.

“Dari situ saya mulai konsultasi ke dokter. Puskesmas menganjurkan agar Melly terus berobat dengan cara terapi,” kata Aman.

Meskipun sudah berobat secara rutin, Aman menyebutkan kondisi fisik Melly tak kunjung membaik. Melly justru semakin lemah, dan kini fungsi tangannya juga tidak sekuat dulu.

“Pada 2015 lalu, dokter rumah sakit mendiagnosa kalau Melly terkena paralisis. Kondisi serupa juga dialami adiknya. Saat ini adik Melly, Husni juga tidak bisa berjalan, padahal usianya sudah 2,5 tahun,” kata Aman.

Meskipun kondisi Melly terus menurun, Aman tetap bersyukur sang anak memiliki semangat untuk terus belajar. Aman berharap semangat Melly tidak pernah memudar hingga cita-citanya terwujud.

“Berkat semangat Melly, kami juga semangat. Mudah-mudahan Melly terus termotivasi untuk bisa sembuh dan meraih mimpi,” kata Aman.

 

Sumber: Pikiran-Rakyat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here