PENAMPILAN seniman Jimbot (kaus hitam) pada perilisan album "Jimbot and Friends" di Ngopi Doeloe Jalan Purnawarman Kota Bandung, Rabu 17 Mei 2017. Pada kesempatan itu, Jimbot menggelar sesi dengar album perdananya yang berisi sembilan lagu kaya warna.

Kiprah seniman Iman “Jimbot” Rohman dirangkum dalam album perdana bertajuk “Jimbot and Friends”. Album berisi sembilan lagu itu menjadi rekam jejak sebagian kecil pengalaman dia sebagai musisi setelah sukses menggelar konser “Torotooot” pada 2015 lalu.

Jimbot melahirkan album yang dia sebut rangkaian musik eksperimental. Ia berkolaborasi dengan rekan-rekannya yakni Budi To’ong (vokal, harmonika), Sandri (drum), Jaka PW (gitar), Rohanda ‘Jalu’ (bas), dan Gingin Ginanjar (keyboard).

Pada perilisan album “Jimbot and Friends” di Jalan Purnawarman Kota Bandung, Rabu 17 Mei 2017, Iman menggelar sesi dengar album tersebut. Dia juga tampil memainkan dua nomor yang menunjukan keragaman latar belakang musikalitasnya. Ia mengungkapkan, tak ada yang lebih menyenangkan karya dia mendapat apresiasi.

Dengan semangat “Ti Sunda ka Jomantara” atau dari Sunda ke semesta, ia bercita-cita untuk mewujudkan musik sebagai bahasa semesta yang universal. Begitu pula dengan karya dalam album “Jimbot and Friends” yang diharapkan dapat diterima positif semua kalangan.

“Saya ini besar di lingkungan seni terutama musik. Ayah saya pemain kendang Sunda, begitu pula kakak dan adik saya. Semuanya pemain musik. Perjalanan saya di musik salah satunya sempat menjadi pengamen jalanan dan tampil di hajatan. Selain itu, saya juga main di kampus dan komunitas seperti Common Room. Dari situ saya mendapat banyak pengalaman,” tutur pria kelahiran Ciamis itu.

Perjalanan hidup Iman Jimbot

Album ini menggambarkan perjalanan Iman Jimbot sebagai musisi. Selain kerap tampil solo di sejumlah negara dengan musik eksperimentalnya, Iman juga dikenal sebagai personel antara lain Karinding Attack, Sarasvati, dan Trah Project. Dia juga turut mengisi tarawangsa untuk album “Laras Perlaya” milik band deathmetal Forgotten.

Hasilnya, album “Jimbot and Friends” berisi rentetan tembang yang kaya warna. Sebagai seniman Sunda, ia memasukkan banyak unsur tradisional Sunda seperti penggunaan instrumen kecapi, suling, dan kendang. Musik yang lahir dari instrumen tradisional itu dikolaborasikan dengan musik modern seperti blues dan pop. Uniknya, karya dia tak sekadar tempelan. Tapi dia berhasil mengombinasikan semua unsur tanpa berlebihan.

Sebut saja pada nomor “Karatagan”. Dengan tempo yang membuai dan sarat kejutan, ia menaruh lagu instrumentalia itu sebagai trek pertama album “Jimbot and Friends”. Saat didengarkan, “Karatagan” dibalut dengan musik Sunda, blues lewat suara harmonika, dan rock dari distorsi gitar.

Bukan musik coba-coba

Kejutan lainnya bisa didengarkan lewat nomor “The Dark of Minstry”. Di lagu ini, Jimbotmemakai alat musik gesek dari bambu bernama bonceret. Konsep lagu ini seperti pertunjukan wayang. Pasalnya ada bagian lagu yang diisi seorang narator bercerita.

Nuansa blues yang kental bisa didengar lewat lagu “Tiung Putih” dan “Wake up Baby”. Sementara itu, nomor “Kamu Kamu dan Kamu” disajikan di album ini dengan aksen cadas yang dominan lewat suara Lookas, vokalis band thrashpunk Tcukimay. Sementara itu, suara gitar dihasilkan gitaris Burgerkill, Agung, dan gitaris Forgotten, Gangan.

Seniman sekaligus Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan, Budi Dalton, mengungkapkan bahwa musik yang Jimbot sajikan bukan lagi disebut musik eksperimental. Pasalnya, karya-karya itu sudah jadi, bukan lagi sekadar bereksperimen atau coba-coba.

“Pesan saya untuk Iman, jadi seniman itu jangan pernah berhenti bermimpi dan berkarya,” ujar Budi yang pernah tampil bersama Iman di Belanda.

Opini lain tentang Iman Jimbot dan karyanya juga diutarakan Addy Gembel. Vokalis band Forgotten itu menyebutkan, Iman adalah pribadi yang tidak bisa dibatasi. Begitu pula dengan proses dia berkarya. Album ini adalah buktinya.

Seniman sederhana

Eksekutif Produser album “Jimbot and Friends” Ahmad Najib Qodratullah mengaku bahwa Iman adalah sosok seniman sederhana, orisinal, dan penuh karya. Menurut dia, Iman juga banyak memberikan inspirasi seni adalah hidup bagi banyak orang.

“Di tengah lesunya industri musik, ia tetap produktif menghasilkan karya. Hal ini yang mendorong saya mendukung penuh apa yang dia lakukan,” kata Najib yang juga anggota DPR RI itu. Ia berharap, Jimbot tidak putus berkreasi.

Peluncuran album “Jimbot and Friends” ditutup dengan penampilan Jimbot bersama para seniman belia dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Budi To’onk, dan penyanyi Sri Rezeki. Pada nomor pertama, ia melantunkan hit milik Sting, “Fragile” yang kemas dengan aransemen musik Sunda. Seusai itu, dia memanggil Sri Rezeki untuk membawakan “Ayun Ambing”, sebuah lagu rakyat Sunda yang liriknya berupa doa dari orangtua untuk anaknya.

 

Sumber: Pikiran-Rakyat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here