Perjuangan mempertahankan hak atas tanah adat terus dilakukan oleh masyarakat adat Karuhun Urang Sunda Wiwitan di Cigugur, Kuningan. Perjuangan ini didukung oleh berbagai organisasi yang peduli pada kebersinambungan eksistensi budaya Sunda di Jawa Barat.

Tujuan mereka satu : pembatalan keputusan Pengadilan Negeri (PN) Kuningan yang memerintahkan eksekusi tanah adat milik masyarakat adat Cigugur.

Ari Mulia Subagja, Ketua Karatuan Majelis Adat Sunda, menegaskan PN Kuningan harus membatalkan eksekusi ini karena putusan itu cacat hukum. Pihaknya melihat adanya indikasi pemalsuan sertifikat dan kebohongan saksi-saksi yang diajukan Jaka Rumantaka (Taka) selaku penggugat.

Pemalsuan sertifikat itu dilakukan Taka dengan disokong oknum aparat kelurahan setempat pada awal sengketa.

“Warga adat dan ormas akan terus melakukan kontrol sosial sampai PN Kuningan membatalkan putusan eksekusi yang cacat hukum ini,” ujar pria yang akrab disapa kang Ari itu.

Untuk itu, kang Ari menegaskan masyarakat adat Cigugur dan berbagai ormas yang peduli pada budaya Sunda akan mendatangi PN Kuningan pada tanggal 24 Mei. Pihaknya menuntut ketegasan PN Kuningan untuk membatalkan eksekusi lahan adat.

Selain didukung oleh  Majelis Adat Sunda, perjuangan masyarakat adat Cigugur ini juga didukung antara lain oleh GMBI, KNPI Jawa Barat, Badan Musyawarah Masyarakat Sunda, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda dan GEMPUR.

Putusan eksekusi dari gugatan Taka, salah seorang bekas warga adat, ke PN Kuningan. Taka mengklaim tanah adat masyarakat Sunda Wiwitan Cigugur sebagai warisan miliknya pribadi.

Taka mengincar tanah di blok Mayasih serta tanah yang berada di Leuweung Leutik (Hutan Larangan) Lumbu. Padahal tanah itu merupakan lahan yang tidak terpisahkan dari zona inti Paseban Tri Panca Tunggal, sebagai pusat kehidupan adat masyarakat Cigugur.

Dan Paseban sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional oleh pemerintah pada 1976. Dengan ditetapkannya Paseban sebagai cagar budaya, maka pemerintah sejatinya telah mengakui eksistensi segala hal yang termasuk ‘produk’ budaya masyarakat adat Cigugur,termasuk pengelolaan lahan adat yang kini justru terancam dikuasai Taka melalui putusan eksekusi PN Kuningan.

Ira Indrawardana, salah satu tokoh masyarakat adat Cigugur, mengatakan putusan PN Kuningan sama sekali tidak mengindahkan hukum adat Cigugur yang telah berlaku sejak sebelum Indonesia merdeka. Seharusnya, PN Kuningan menjadikan manuskrip leluhur masyarakat adat yang menjelaskan bahwa tidak ada bagi waris dalam pengelolaan tanah adat Cigugur sebagai bahan pertimbangan dalam mengeluarkan putusan.

Sehingga, apabila hakim menjadikan masnukrip itu sebagai bahan pertimbangan, maka pengadilan tidak akan memenangkan Taka yang mengklaim tanah adat Cigugur sebagai tanah warisan yang menjadi hak miliknya pribadi.

“Pengadilan negara harus memperhatikan keberadaan hukum adat setempat, dan harus dijadikan pertimbangan ketika mengambil keputusan dalam proses pengadilan,” kata pria yang juga Antropolog dari Universitas Padjadjaran itu.

Ira juga menjelaskan,proses hukum dalam PN Kuningan telah diwarnai diskriminasi terhadap masyarakat adat Cigugur yang hingga kini masih menganut ajaran Sunda Wiwitan warisan leluhur. Hal itu tampak ketika pemuka adat masyarakat adat Cigugur tidak bisa disumpah saat memberikan kesaksian di persidangan.

‘Ketiadaan’ sumpah diluar enam agama yang diakui negara dalam pengadilan menjadi penyebab terjadinya hal itu.

Walhasil, karena tidak bisa disumpah, pernyataan pemuka adat Cigugur tidak dipertimbangkan oleh hakim ketika mengambil keputusan.

“Hal ini merupakan ketidakpahaman hakim dalam mencermati keadilan dan kesejajaran dalam berkeyakinan yang dijamin UUD 1945,” ujar Ira.

 

 

 

 

1 KOMENTAR

  1. kenapa masyarakat adat cigugur ngotot mau meeembentuk agama baru???kenapa tidak berpegang pada agama yg dianut para leluhurnya terdahulu yaitu Raja Pajajaran???>>>melihat nama Guru yang di agungkan yaitu Guru madrais jelas berarti dari Madraisme (Nama ebuah kota madras di India/Hindustan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here