KENDARAAN melintas di depan Pospam di Jalan Nasional Bandung-Cirebon tepatnya di Kadipaten

Bulan Ramadan akan berlangsung pada musim kemarau. Suhu udara di wilayah Majalengka bagian tengah hingga bagian utara sejak 10 hari terakhir mencapai 35 derajat Celcius. Suhu akan semakin meningkat hingga 38 derajat Celcius pada beberapa bulan ke depan. Waspadai dehidrasi atau penyakit-penyakit akibat kekeringan.

Hal itu disampaikan prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kelas III Jatiwangi, Ahmad Faaizyn di wilayah Kabupaten Majalengka serta wilayah III Cirebon lainnya. Ia mengatakan, musim kemarau sudah mulai berlangsung sejak tangga 21 Maret 2017, karenan intensitas curah hujan sangat rendah serta suhu udara sangat tinggi, tak heran bila cuasa belakangan ini sangat panas.

“Selama kemarau ini diperkirakan masih ada potensi hujan namun ringan, intensitasnya renah. Dalam sebulan paling hanya sekali saja atau paling banyak lima kali, ituopun dibawah 50 mm per bulan,” ungkap Faaizyn.

Suhu maksimum menurutnya diprediksi akan mencapai 38 derajat celcius, itu akan terjadi di bulan Agustus hingga Oktober mendatang.

“Masyarakat sekarang akan sangat merasakan perbedaan cuaca dari suhu yang sedang ke panas. Padahal sebenarnya kondisi seperti ini sudah biasa terjadi setiap tahun, persoalannya mungkin karena sekarang vegetasi pohon yang kurang. Ekositem yang berubah sehingga matahari langsung terpapar ke tubuh dan bangunan tidak ke alam sehingga panasnya sangat terasa,” ungkap Faaizyn.

Yang harus diwaspadai oleh masyarakat sekarang ini menurut Faaizyn adalah  bagi para petani yang masih melakukan tanam atau usia tanaman yang masih relatif muda. Sehingga masih membutuhkan pengairan yang cukup banyak. Makanya para petani harus segera mempersiapkan mesin pompa air untuk mengairi areal tanamannya terutama yang tanamannya jauh ke lokasi pengairan irigasi.

Angin kencang

Kondisi embung-embung air, situ, ataupun irigasi juga akan merasakan kondisi air yang kian menyusu. Itu diakibatkan air menguap ke atas, karena terpaan terik matahari dan angin yang berembus kencang.

Kewaspadaan juga harus dilakukan masyarakat yang biasa memanfaatkan air bawah tanah, karena cadangan air akan menyusut. Termasuk bagi masyarakat wilayah Jatiwangi dan bagian utara lainnya.

Menurut Faaizyn saat ini kecepatan angin sekitar 25 km per jam. Sedangkan mulai Agustus hingga September kecepatan angin akan bertambah kencang 5 km per jam atau mencapai 30 km per jam.

“Karena tingginya suhu udara disertai angin yang sangat kencang maka waspadai kemungkinan terjadinya dehidrasi. Atau penyakit yang berasal dari dari pengaruh cuaca.” kata Ahmad Faaizyn.

Sementara itu sejumlah masyarakat di Majalengka mulai merasakan perubahan cuaca yang cukup panas di wilayahnya. Kulit yang mengering, tanaman yang mudah layu, bahkan sayuran di pasarpun sangat cepat layu.

Makanya sejumlah pedagang sayur keliling banyak yang berupaya mensiasati sayurannya agar tidak mudah layu terkena angina. Seperti halnya bayam atau kangkung serta sosian berupaya di kemas dengan plastik  besar agar terhindar dari angin.

Maman salah seorang pedagang sayuran asal Maja misalnya, begitu membeli sayuran hijau dia langsung mengemasnya dengan plastik. “Kalau tidak begini langsung layu, menjualnya susah dianggap sayuran kemarin karena tidaks egar lagi,” kata Maman.

 

Sumber: Pikiran-Rakyat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here