KESENIAN tradisional buroq yang ada di perdesaan wilayah Kuningan, kini sudah jarang tampil atau dipentaskan, sehingga keberadannya terancam punah.

Sejumlah seniman yang ada di Kabupaten Kuningan, diminta untuk tidak cengeng apalagi mengeluh akibat beberapa kesenian tradisional yang tersebar di wewengkon Kabupaten Kuningan maupun seni budaya yang keberadaannya kini terancam punah. Kesenian tradisional, hanya dapat tampil hampir setahun sekali setiap peringatan hari jadi dan itu pun tidak seluruh kesenian yang ada dapat mendapat tempat.

“Eksistensi kesenian tradisional, sebenarnya berbanding lurus dengan kegiatan Dinas Pariwisata. Artinya, jika Kuningan dijadikan daerah tujuan wisata dan para wisatawan terus mengalir mengunjungi obyek-obyek wisata yang ada, maka disitulah kesenian tradisional dapat ditampilkan,” tutur Ketua Dewan Kesenian Kuningan (DKK) H.Totom Subita.

Totom mengakui, pada akhir-akhir ini dia sering menerima pesan pendek (SMS) dari yang mengatasnamakan pimpinan atau pelaku kesenian tradisional. Mereka mengeluhkan kesenian yang digelutinya nyaris punah, akibat sudah beberapa tahun tidak tampil. Ditampilkannya kesenian tradisional itu, paling tidak setahun sekali setiap peringatan hari jadi Kuningan dan itu pun tidak semua kesenian yang ada dapat tampil akibat adanya keterbatasan.
Kesenian tradisional dan budaya Sunda tersebut, di antaranya seni Beluk, Sintren, Dongbret, Karinding, Gembyung, Reog Buhun, Calung, Pesta Dadung, Kemprongan, tari Buyung, seni Rudat bahkan goong Renteng dan jenis kesenian tradisional lainnya yang tersebar hingga peloksok perdesaan.

“Saya terus terang tidak senang kalau ada seniman Kuningan yang mengeluh, malu sama olahragawan. Kuningan sekarang ini sudah memiliki gedung kesenian tersendiri, sehingga justeru harus dimanfaatkan oleh segenap seniman termasuk kesenian tradisional. Kami dari dewan kesenian hanya sebagai  fasilitator, tidak memiliki anggaran secara khusus,” paparnya.
Mengenai hampir punahnya sejumlah kesenian tradisional, ujar Totom, sebetulnya merupakan tanggungjawab Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud). Sebab, yang punya data statistik kesenian adalah pemerintah, dalam artian bukan DKK tidak tanggung jawab. Persoalan lain, hampir seluruh obyek wisata yang dulunya dikelola Disparbud, kini diambil alih oleh PDAU (Perusahaan Daerah Aneka Usaha) sehingga Disparbud praktis tidak mengelola secara fisik obyek-obyek wisata.

Di Kuningan terdapat gedung naskah Linggarjati yang memiliki nilai sejarah dunia yakni tempat berundingnya pemerintah Belanda dengan pemerintah Republik Indonesia. Guna menghidupkan dan lebih mengapresiasi keberadaannya,  Kuningan dapat menyelenggarakan lomba marathon dalam tajuk “Kuningan 10 K” (10 km), dengan start dari Pandapa Paramartha Kuningan Kota dan finish di arena gedung naskah Linggarjati. “Pada even itu ditampilkan pula kesenian tradisional, sehingga olahraganya dapat dan keseniannya juga dapat tampil,” kata Totom.

Pada kesempatan berbeda, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kuningan, Tedi Suminar, bahkan menegaskan, dia tengah menjajagi terwujudnya Kuningan sebagai gerbang budaya Sunda di daerah Jabar bagian Timur, karena wilayah Kabupaten Kuningan merupakan satu-satunya daerah di Jawa Barat bagian Timur yang berbatasan dengan daerah Jawa Tengah berbasis bahasa Sunda.

Tedi sangat mengharapkan terwujudnya Kuningan sebagai Sundanese, atau pusat budaya Sunda. Artinya, seluruh adat atau budaya Sunda di Jawa Barat ada di Kuningan.  Adat budaya Sunda itu, sebenarnya sudah lama terbentuk di  daerah Cigugur  dan berdirinya gedung Cagar Budaya Nasional Paseban Tri Panca Tunggal, yang setiap tanggal 22 Rayagung menyelenggarakan adat seren taun.

 

Sumber: Pikiran-Rakyat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here