Babarit

SUASANA pergelaran tradisi babarit di Dusun Dayeuhkolot, Desa Cageur, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, hingga saat ini masih lestari dan tak pernah pudar tergeser era modernisasi. Prosesi tradisi babarit di dusun tersebut sepintas hanya berupa pergelaran seni tayuban sunda, tetapi di dalamnya banyak mengandung pepatah yang harus dipertahankan serta dijunjung tinggi masyarakat.

Babarit di dusun itu, merupakan sebuah acara tradisi masyarakat yang sejak jaman dulu rutin dan tak pernah absen digelar setiap setahun sekali. Prosesi termasuk lagu-lagu dan irama musik tayuban sunda khas babarit di dusun itu pun, sejak dulu hingga saat ini nyaris tidak mengalami perubahan.

“Tradisi babarit di dusun kami ini sejak jama dulu entah mulai tahun berapa hingga sekarang biasa digelar setiap bulan Muharam. Dan, tak pernah sekali pun terputus atau tidak dilaksanakan,” ujar Nahrudin, salah satu tokoh masyarakat Dusun Dayeuhkolot yang juga Kepala Urusan Ekonomi dan Pembangunan Desa Cageur, seusai mengikuti prosesi babarit di dusunnya itu, Senin, 24 Juni 2016 sore.

Prosesi babarit di dusun itu digelar mulai sekitar pukul 16.00 di alun-alun depan masjid dan kantor balai dusun. Beberapa menit sebelum prosesi babarit dimulai, ratusan masyarakat setempat berdatangan untuk menyaksikan acara tersebut. Sebagian duduk mengisi barisan kursi di depan panggung acara, selebihnya duduk-duduk dan berdiri tertib di seputar alun-alun tersebut.

Prosesi babarit itu diawali dengan pemanjatan do’a, disusul sambutan-sambutan dari kepala Desa Cageur dan perwakilan tokoh masyarakat Dayeuhkolot. Berikutnya baru menginjak pada acara inti diawali dengan irama musik pengantar tayuban kolaborasi alat-laat musik tradisional seperti kendang, goong, bonang, saron, dan gambang.

Para penabuh alat musik tradisional serta pesinden atau pelantun lagu-lagu khas babarit itu, semuanya warga Dusun Dayeuhkolot. Setiap lantunan lagu diiringi irama musik tayuban dalam acara tradisi itu diikuti tarian dua sampai empat orang laki-laki disertai para pesindennya.

Prosesi babarit itu hanya berlangsung selama lebih kurang satu jam menyuguhkan tujuh lagu inti khas babarit Dayeuhkolot, disaksikan masyarakat dalam suasana khidmat. Ketujuh lagu khas babarit di dusun itu, dilantunkan secara berurutan diawali lagu berjudul Lahir Batin, Golewang, Titi Pati, Tali Asih, Renggong Buyut, Goyong-goyong, dan Raja Pulang.

Tradisi babarit seperti itu konon biasa digelar juga masyarakat di beberapa desa sekitar, termasuk juga di lingkungan masyarakat blok Desa Cageur. Pada masa lalu acara babarit seperti itu, biasa digelar pada saat-saat matahari terbenam.

Namun karena saat-sat terbenam matahari berbenturan dengan waktu sholat magrib, akhirnya sejak tahun 1981 sampai sekarang prosesi babarit di Dusun Dayeuhkolot pelaksanaanya diubah mulai sekitar pukul 15.30 atau 16.00. Malahan di Blok Desa Cageur sendiri, acara tradisi itu sejak tahun 1981 tak pernah lagi digelar.

Konon, menurut cerita warga Dusun Dayeuhkolot dan sekitarnya, prosesi babarit sering terkesan diwarnai aroma mistis. Tak jarang dalam prosesi babarit di masa lalu, ada penari atau masyarakat yang menyaksikannya tiba-tiba bertindak di luar kebiasaannya. Misalnya, meminta dan megisap cerutu, nyisig (mengunyah tembakau), atau ada yang berulah seperti orang kerasukan roh halus.

“Itu sih pada babarit di jaman-jaman dulu, puluhan tahun lalu. Hal-hal seperti itu, sekarang tidak ada lagi,” kata salah seorang warga di dusun tersebut.

Selama “PR” menyaksikan acara babarit di Dayeuhkolot Senin kemarin maupun pada beberapa kali babarit tahun-tahun sebelumnya, juga tak pernah pernah menemukan hal yang aneh-aneh. Kecuali hanya berupa penampilan kesenian sunda tayuban yang digelar apik penuh khidmat.

Nahrudin dan sejumlah tokoh masyarakat di dusun itu, juga Kepala Desa Cageur Cicih Sumiarsih mengungkapkan, tradisi babarit itu intinya sebagai syukuran dan hiburan tahunan masyarakat. Syukuran atas berbagai rejeki dan kenikmatan hidup yang telah diperoleh, disertai pemanjatan do’a kepada Allah untuk mendapatkan berbagai kebaikan dan kesemalatan pada masa-masa yang akan dihadapi.

Selain itu, dari lagu-lagu babarit itu pun mengandung makna dan nasihat-nasihat bagi masyarakat. Misalnya lagu berjudul Lahir Batin mengandung nasihat agar selalu berbuat baik kepada sesama manusia dan beribadah kepada Allah. Kemudian lagu Golewang mengadung makna dalam menjalani kehidupan di dunia masyarakat harus mengikuti ajaran agama dan aturan hukum.

Berikutnya, lagu Titi Pati mengandung makna dan nasihat agar selalu teliti dan hati-hati dalam menjalani kehidupan. Sali Asih mengandung pepatah untuk memelihara kasih sayang terhadap sesama manusia dan lingkungan alam. Renggong buyut mengandung pepatah mengajak masyarakat untuk selalu memelihara silaturahmi, lagu Goyong-goyong berisi ajakan untuk memelihara budaya gotong-royong. Dan, lagu Raja Pulang mengingatkan setiap insan tanpa memandang sastus dan kedudukannya didunia agar selalu melakukan amal kebaikan untuk bekal hidup di dunia dan di akherat kelak.

 

Sumber: Pikiran-Rakyat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here