Ronggeng Kadempling asal Majalengka membuka pagelaran seni dan budaya bertajuk Temu Ronggeng di Kuningan, Jawa Barat (8/12). Pada Juni lalu, kelompok ini berhasil meraih penghargaan rekor MURI atas prestasinya menampilkan 1.525 ronggeng di hari jadi Majalengka yang ke-525.

Stigma yang melekat selama bertahun-tahun membuat Ronggeng dipandang sebelah mata. Kini, kesenian asli Indonesia yang sepuh nan adiluhung mencoba bangkit.

“Ronggeng bukan lonte!” kalimat itu tegas dilontarkan oleh Gugum Gumbira. “Tidak semua penari bisa disebut seorang ronggeng.”

Gugum Gumbira merupakan seorang seniman asal Bandung. Kehadirannya berperan besar dalam perkembangan seni tari tradisional Indonesia. Salah satu karyanya yang melegenda adalah Jaipong.

Kata Ronggeng diyakini berasal dari bahasa Sunda, yaitu rwang yang berarti ruang, rongga, atau lubang sebagai simbol alat kelamin perempuan. Ada pula yang mengaitkan kata ronggeng dengan kata renggana yang berasal dari bahasa Sanskrit yang berarti perempuan pujaan. Seni tari yang identik dengan sosok perempuan penggoda ini telah berusia belasan abad. Para sejarawan memprediksi keberadaannya melalui relief Candi Borobudur pada abad ke-8, sosok penari ronggeng terpampang jelas di candi tersebut.

Pada zaman penjajahan Belanda, pertunjukkan ronggeng dihadirkan untuk menghibur para tukang kebun dan tentara. Di masa itu, sosok ronggeng menjadi primadona dan pelipur lara yang paling digandrungi. Tak heran mengapa ronggeng menjadi begitu santer hingga akhirnya kesenian ini menurun ke generasi selanjutnya dan berkembang di seluruh wilayah nusantara.

Sang Penari, sebuah film adaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari pada 1982 mampu merepresentasikan kisah ronggeng di masa itu. Srintil mengalami masa kejayaan sebagai seorang ronggeng dari Dukuh Paruk. Kehadirannya mampu menghidupkan desa yang hampir mati akibat kelaparan dan kemiskinan. Memutuskan jalan hidup sebagai ronggeng membuatnya tak bisa meninggalkan tanggung jawab utama, yaitu berperan sebagai mahkota desa. Untuk menyematkan gelar ronggeng pada dirinya, Srintil harus merelakan keperawanannya kepada seorang pria yang berhasil menawarkan harga tertinggi di malam Bukak Klambu.

Ronggeng identik dengan kepiawaian penari dalam menggoda lawan jenisnya. Salah satu gerakan ini ditampilkan oleh ronggeng asal Banyuwangi dalam temu ronggeng di Kuningan, Jawa Barat.

Peristiwa dalam film ini merupakan realita di beberapa daerah. Anis Sujana, seorang peneliti budaya menyatakan bahwa terdapat oknum-oknum yang memelintir makna dari pertunjukkan ronggeng. “Cara penonton menyawer dengan diselipkan ke dada para penari. Hiburannya pun tidak lagi sekadar menonton, tapi bisa meraba,” ujar Anis. Namun, satu akar yang menyebabkan “ronggeng” mengalami penyempitan makna adalah praktik prostitusi yang diselenggarakan setelah pertunjukan selesai. “Memang beberapa oknum menyalahgunakan kesenian ini sampai akhirnya ronggeng dikenal sebagai pelacuran,” tambah Anis.

Ronggeng memang telah mengalami penyempitan makna. Hal ini dirasakan benar oleh para pengelola sekolah kesenian khususnya di Jawa Barat. Betahun-tahun sudah anak-anak perempuan dengan minat khusus tari terpaksa mengurungkan cita-citanya sebagai ronggeng. Penyebabnya tak lain para orangtua melarang karena stigma “ronggeng” yang tumbuh bersama mereka. “Yang seperti itu tidak bisa dibenarkan sebagai ronggeng. Karena jelas yang mereka lakukan tidak mencitrakan seorang ronggeng. Sekali lagi maaf, ronggeng bukan lonte!” tandas Gugum.

Citra Ronggeng yang Sesungguhnya

Para bintang baru penerus ronggeng Doger Kontrak asal Jawa Barat. Pada zaman dahulu, biasanya tari ini digunakan untuk menghibur para mandor.

Syarat utama menjadi seorang ronggeng merupakan kelebihan fisik yang dimiliki, yakni perempuan dengan paras cantik, tubuh ideal, dan suara merdu. Namun, pembelajaran selanjutnya yang harus mereka hadapi lebih berat dari yang dibayangkan. Menjadi seorang ronggeng tak hanya soal merias diri, mereka dituntut untuk mampu menari, menyanyi, dan membela diri.

Berbagai pelatihan fisik diberikan untuk melahirkan sosok ronggeng yang kuat. Di masa lalu ronggeng menari dan menyanyi selama berjam-jam tanpa bantuan teknologi. Terlepas dari pengeras suara, mereka bernyanyi dengan sepenuh tenaga agar suaranya terdengar oleh warga satu kampung. Pelatihan bela diri pun diberikan guna melindungi diri mereka dari tangan-tangan nakal para penonton. “Betapa berat tantangan seorang ronggeng. Hanya perempuan tangguh yang sanggup bertahan dan menyandang gelar ronggeng,” tegas Gugum.

Kepiawaian ronggeng dalam menggoda pria memang harus diakui. Tidak sedikit hati para penonton jatuh kepada sosok ronggeng yang disaksikannya. Tak hanya sebagai sosok penghibur, Ronggeng di masa kejayaannya kerap kali menjadi seorang pemimpin sebuah upacara adat. Kehadirannya dihormati dan dipercayakan sebagai pembawa keberuntungan. Posisi ini menunjukkan kedudukan seorang ronggeng yang begitu dihormati oleh warga desa.

Nasib ronggeng kini

Merupakan tugas bersama untuk mengembalikan citra ronggeng yang sesungguhnya. Citra yang terhormat, dikagumi, dan sebagai profesi yang menjanjikan. Di akhir tahun ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memulai inisiatif untuk mempertahankan salah satu kesenian asli Indonesia ini.

Pagelaran kesenian ronggeng yang pertama telah berhasil dilaksanakan selama tiga hari pada 8-10 Desember lalu di Kuningan, Jawa Barat. Pagelaran seni dan budaya bertajuk “Temu Ronggeng: Penyuluhan dan Workshop Seni” telah menyatukan 200 ronggeng dari Pulau Jawa dan Sumatra dalam satu panggung.

Anies Baswedan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menuturkan, pagelaran ini merupakan ajang untuk para ronggeng bersilaturahmi sekaligus tempat untuk melahirkan inovasi yang dihasilkan dari kolaborasi setiap daerah. “Ini yang pertama dalam sejarah, kesenian yang sudah berusia belasan abad ini harus kembali pada citra positifnya, sebagai kesenian yang sepuh dan adiluhung,” jelas Anies.

Perbaikan dari gerakan-gerakan ronggeng menjadi fokus utama dalam workshop perdana temu ronggeng ini. Endang Caturwati selaku Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilman mengawal pembenahan gerakan ronggeng sesuai filosofinya. “Seni ronggeng ini tumbuh di berbagai daerah, pastinya akan mengalami perkembangan gerakan juga. Kita bantu mereka menghayati filosofi dari setiap gerakan yang ditarikan,” jelas Endang.

Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra Utara menjadi kader perdana yang akan mengembalikan citra positif ronggeng. Diharapkan kelompok-kelompok yang datang dari berbagai daerah ini mampu mengikuti jejak ronggeng Kadempling Majalengka.

Pada Juni 2015, ronggeng Kadempling berhasil meraih rekor MURI. Sebanyak 1.525 ronggeng mengguncang Majalengka di hari ulang tahunnya yang ke-525. “Semoga ini bisa menjadi titik kebangkitan ronggeng di generasi selanjutnya,” tutur Endang.

 

Sumber: NationalGeographic

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here