Pekan lalu, bencana menimpa Komunitas Baduy. Permukiman komunitas adat yang berdomisili di desa Kanekes,Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten itu dilanda kebakaran yang melahap puluhan rumah adat.

Bencana itu menyebabkan warga Baduy yang menjadi korban kebakaran harus mengungsi. Kebakaran ini menjadi keprihatinan kolektif semua anak bangsa, karena menimpa komunitas adat yang selama ini berupaya hidup selaras dengan kelestarian alam.

Ya, komunitas Baduy memang dikenal sebagai satu dari sedikit kelompok suku dalam masyarakat Indonesia yang masih teguh menjaga kelestarian alamnya. Pedoman adat atau pikukuh warisan leluhur yang dipegang teguh oleh komunitas adat Baduy hingga kini menjadi basis dari kehidupan mereka yang tak merusak alam.

Pola Berladang

Selain itu, pola pertanian mereka juga sangat menjaga kebersinambungan lingkungan. Berladang atau ngahuma, merupakan pola pertanian yang dijalankan oleh komunitas Baduy sejak dahulu hingga sekarang.

Komunitas Baduy memang tidak mengikuti pola pertanian bersawah menetap yang dilakukan masyarakat Sunda kebanyakan yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Barat dan Banten. Hal ini dikarenakan adanya prinsip tabu atau pamali (larangan secara adat) untuk mengolah tanah dengan pola bersawah dari para karuhun (leluhur).

Larangan ini cukup masuk akal. Sebab bila dilihat secara geografis lahan pertanian komunitas Baduy terletak di perbukitan sehingga sulit dibuatkan sarana irigasi. Sementara pola pertanian sawah sangat membutuhkan irigasi.

Dan apabila ditiinjau secara historis, menurut beberapa versi sejarah seperti naskah Carita Parahyangan dan Wawacan Sulanjana, pola pertanian berladang memang sudah dijalankan masyarakat Sunda Buhun sejak masa Kerajaan Salakanagara hingga era penjajahan Mataram di wilayah Priangan pada awal abad 17. Sehingga tak aneh apabila komunitas Baduy yang memang penerus tradisi hidup Sunda Buhun, masih menjalankan pola berladang hingga kini.

Berladang sendiri merupakan pola pertanian yang mengubah hutan alam menjadi hutan garapan. Dari hutan garapan itu, kebutuhan pangan bagi manusia pun didapat. Proses berladang dijalankan seturut dengan perputaran (siklus). Biasanya, siklus ini bergantung pada tingkat kesuburan dan produktivitas tanah, atau kondisi cuaca.

Dalam komunitas Baduy, pola berladang memiliki beberapa tahapan dalam proses produksinya. Tahapan pertama adalah Nyacar, yang merupakan pembukaan areal hutan dengan cara dibersihkan terlebih dahulu semak belukarnya. Biasanya pekerjaan ini dilakukan oleh pria dewasa dengan menggunakan alat-alat seperti golok dan parang.

Tahapan kedua, ialah penebangan pohon-pohon yang berukuran besar dengan menggunakan beliung atau kapak besar. Setelah itu, warga membakar ranting-ranting kayu dari pohon-pohon yang sudah ditebang.

Tahapan berikutnya adalah ngaseuk atau atau melobangi tanah untuk menanam benih dengan menggunakan aseuk, atau tongkat kayu sepanjang kira-kira satu setengah meter yang ujungnya runcing. Namun ngaseuk tak langsung dilakukan setelah pembakaran ranting-ranting kayu hasil tebangan pohon selesai dilakukan. Ngaseuk dilakukan setelah tanah hutan menjadi dingin pasca proses pembakaran ranting selesai.

Setelah tanah dirasa telah dingin dan cukup mampu untuk menerima benih, maka proses ngaseuk yang langsung dilanjutkan dengan penanaman benih yang berupa biji-bijian dan padi-padian pun dilakukan.

Setelah itu, proses berladang memasuki tahapan pembersihan ladang dari rumput-rumput yang tumbuh di sekitar tanaman. Hal ini dilakukan guna memudahkan proses panen. Komunitas Baduy menamakan tahapan ini dengan istilah ngoyos.

Prinsip Ngahuma

Biasanya, rentang waktu antara pembenihan dengan masa panen memakan waktu 3-4 bulan. Setelah masa panen tiba, komunitas Baduy mengadakan upacara selamatan sebagai manifestasi rasa syukur mereka atas hasil panen yang berhasil didapat.

Untuk diketahui, bagi komunitas Baduy, pola ngahuma ini tak sekedar pekerjaan ‘mencari makan’. Ngahuma juga dipandang sebagai aktivitas sakral, karena bermakna ‘mengawinkan’ dewi padi atau Nyi Pohaci Sanghyang Asri dengan bumi. Oleh sebab itu, aktivitas ngahuma selalu diiringi dengan ritual-ritual adat.

Dan ada beberapa prinsip yang harus dipatuhi oleh komunitas Baduy selama proses ngahuma. Salah satu prinsip itu adalah larangan untuk membalik tanah, yang memiliki arti dilarang mencangkul dalam kegiatan penanaman, tetapi cukup dinunggal.

Prinsip kedua adalah dilarang keras menggunakan pupuk dan obat-obat kimia. Sedangkan prinsip ketiga adalah pelarangan pembukaan ladang di leuweng titipan (hutan tua) atau leuweng lindungan lembur (hutan kampung). Hutan-hutan yang terletak di sekitar mata air atau gunung yang dikeramatkan ini memang sangat dijaga kelestariannya oleh komunitas Baduy.

Kemudian, prinsip keempat adalah dilarang mendahului selama proses ngahuma. Jadi waktu berladang harus sesuai dengan ketentuan adat.

Dari pola ngahuma ini terlihat bahwasanya komunitas Baduy memang sangat memperhatikan kelestarian alam dalam pola produksinya. Mereka sangat menyadari, bahwasanya rusaknya alam berarti rusak juga sumber  penghidupan mereka.

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here