KEBERADAAN Sumur Bandung selama ini identik dengan sejarah Kota Bandung. Situs yang dikeramatkan tersebut berada di Gedung PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten, Jalan AsiaAfrika, Kota Bandung.

Sumur Bandung dianggap sebagai penanda kelahiran kota dan dikaitkan dengan sejumlah cerita mitos seperti Nyi Mas Dewi Kentring Manik atau Bupati RA Wiranatakusumah II. Namun, Sumur Bandung tak hanya berada di Kota Bandung. Sumur dengan nama sama ada di Kota Depok.

Situs tersebut berada di Kampung Taman Induk, RT 7, RW 11, Kelurahan Cipayung, Kecamatan Cipayung. Sumur Bandung di Depok merupakan mata air yang keluar dari sela-sela akar pohon besar. Aliran air itu ditampung dalam kolam.

Terletak di tengah lembah atau cekungan, Sumur Bandung Depok juga dikeramatkan warga sekitar. Lokasi tersebut menjadi tujuan para peziarah yang berasal dari berbagi daerah. Para peziarah melakukan ritual mandi, mencuci muka, hingga tirakat di Sumur itu guna berbagai tujuan tertentu.

Sebagaimana di Kota Bandung, mitos-mitos yang terkandung dalam folklore atau cerita rakyat pun tersimpan di Sumur Bandung Depok. Yang menarik, mitos itu bukan hanya sekadar cerita mistis. Bila ditelusuri lebih jauh, Sumur itu sangat mungkin terkait sejarah Depok tempo dulu.

‎Hamzah Syah (54), pengelola situs tersebut meyakini sumur telah ada sejak jaman Hindu-Budha atau masa pra-Islam. Dulu, tutur Hamzah, masyarakat Betawi sekitar menyebut Sumur itu dengan nama Kobakan Taman. Kobakan bisa diartikan sebagai lekuk tanah yang berisi air.

Dalam kepercayaan lokal, Kobakan Taman merupakan tempat berkumpulnya arwah para leluhur. Kepercayaan itu membuat tempat tersebut dikeramatkan dan menjadi lokasi ziarah.

“Masyarakat sini mau bermain bola, futsal, minum air di sini, susah melahirkan (minum airnya), melahirkan jadi gampang. Itulah yang menjadi kebiasaan orang dulu,” ucap Hamzah saat ditemui, Minggu 23 Juli 2017.

Hamzah membeli lahan Sumur Bandung sekitar 3.000 meter persegi pada 2012. Sebagian lahan Hamzah berupa sumur dan pohon besar diserahkan kepada Pemerintah Kota Depok guna dijadikan cagar budaya.

Kawasan tersebut pada mulanya berupa hutan, semak belukar dan pesawahan warga. Letaknya yang cukup jauh dari pemukiman membuat Sumur tersebut ideal sebagai tempat menyepi. Beberapa benda-benda yang diduga memiliki nilai kepurbakalaan sempat ditemui warga.

Hamzah menyatakan menemukan batu-batu yang ditengarai bagian dari punden berundak saat menggali sumur. Bahkan, katanya, ada peziarah yang menemukan batu tegak di area situs. Akan tetapi, keberadaan benda yang diduga bersejarah itu raib karena dibawa pulang peziarah.

Tak hanya itu, akar-akar pohon yang saling terlilit sempat membentuk rongga seperti gua yang sempat dijadikan tempat bertapa. Hamzah mengakui pohon besar berjenis kalapancung yang menaungi Sumur itu pernah menjadi lokasi ritual semacam itu. Namun, dia menyebutnya sebagai tirakat.

Menyoal nama

Ihwal perubahan nama Kobakan Taman menjadi Sumur Bandung terbilang menarik dengan beberapa versi. Dalam versi Hamzah, nama Sumur Bandung muncul saat seorang pengusaha akan membeli lahan tersebut pada 1983. “Nah kebetulan beliau ini dari Bandung, dikasih (nama) Sumur Bandung,” ucapnya.

Sumur itu, tuturnya, juga merujuk pada istilah air yang terbendung atau terkumpul dalam kolam. Pembelian lahan urung dilakukan karena musabab yang tak diketahui. Namun, nama Sumur Bandung kadung lebih dikenal warga dan menyebar.

Versi berbeda disampaikan Toyim K (68), juru kunci Sumur Bandung. Menurut Toyim, penamaan Sumur itu diberikan oleh peziarah asal Cirebon sekitar 1985. Toyim keheranan karena sang peziarah mencari lokasi Sumur Bandung di wilayah Cipayung, Depok.

Meski Toyim menyebut hanya ada sumur Kampung Taman, peziarah itu tetap meyakini dan menyebutnya Sumur Bandung. Mengenai munculnya mata air tersebut, Toyim punya versi yang berbeda pula. Kawasan situs, tuturnya, merupakan pesawahan dan balong tempat berendam kerbau warga di masa lalu. Saat seekor kerbau beranjak dari tempatnya berkubang, air menyembur ke permukaan.

“Muncul mata air, terus dibendung,” ucap Toyim beberapa waktu lalu.

Kendati berbeda versi cerita, Toyim membenarkan Sumur itu dikeramatkan sejak dahulu. Keberadaan mata air yang tak pernah surut tersebut sangat menolong warga ketika musim kemarau. Warga memanfaatkannya guna keperluan sehari-hari ketika sumur-sumur mengering.

Tempat petirtaan dewa

Sementara itu, Staf Pengajar Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Agus Aris Munadar menduga, Sumur itu merupakan bekas petirtaan kuno untuk pemujaan dewa-dewa di masa lampau.

“Petirtaan itu biasa dipakai (untuk) upacara kesuburan itu kaitannya dengan zaman Hindu dengan pemujaan Dewa Wisnu dan Dewi Sri,” tutur Agus.

Kehadiran Islam membuat praktik pemujaan dewa di petirtaan tak lagi dilakukan. Air petirtaan pun dijadikan tempat mengambil wudhu.

Keberadaan sejumlah sumur lain seperti Sumur Tujuh Beringin Kurung di Beji,  Gondang Cimanggis, Sumur Pancoran Mas diduga menjadi bukti Depok merupakan tempat yang dikeramatkan komunitas keagamaan Sunda kuno atau kabuyutan.

Indikasi itu diperkuat adanya temuan-temuan batu teak di Citayam-Bojonggede (kawasan perbatasan Depok-Kabupaten Bogor.

“Sebenarnya pemujaannya diarahkan ke Gunung Salak. Gunung Salak itu Mahamerunya Pakuan Pajajaran,” tutur Agus.

Para pendeta Sunda kuno yang menyepi menjadikan Depok sebagai kabuyutan.

Corak pemujaan, kata Agus, masih mengarah kepada leluhur meskipun pengaruh Hindu-Budha telah masuk di Tatar Sunda. Menurutnya, masa pemujaa Hindu-Budha dan leluhur tak terpisah tegas saat itu.

Kondisi Jawa Barat berbeda dengan Jawa Timur yang memisahkan corak pemujaan Hindu Budha dan leluhur dengan membangun arca dan candi. Tak heran, artefak semacam itu jarang ditemukan di wilayah Jabar. Meski demikian, keberadaan sumur-sumur keramat menjadi salah satu indikasi  sejarah Depok di masa lalu.

Kini, peninggalan-peninggalan tersebut tak boleh sekadar dibiarkan hanya sekadar cerita rakyat. Butuh penelitian mendalam guna menelisik peninggalan berharga tersebut.

 

Summer : Pikiran Rakyat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here