Petani melintasi sawah yang mengering akibat musim kemarau di Kecamatan Cijeungjing, Ciamis, Jawa Barat, Senin (6/7). Saat ini sekiratar 3.500 hektare persawahan di Ciamis terancam kekeringan. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/Rei/foc/15.

Ratusan hektar area sawah di tiga kecamatan di Kabupaten Karawang mulai kekurangan air. Suplai air dari Perusahaan Jasa Tirta II volumenya sudah tidak memadai lagi untuk mengairi sawah di wilayah tersebut.

Tiga kecamatan dimaksud adalah Telagasari, Lemahabang, dan Tempuran. Petani di daerah itu bahkan sudah ada yang menggunakan pompa air agar sawahnya tetap basah.

“Sejak dua pekan terakhir ini, suplai air pada saluran irigasi mulai mengecil. Akibatnya, air tidak masuk ke petakan sawah milik saya,” ujar Waskam, petani warga Dusun Babawangan, Desa Lemahmukti, Kecamatan Lemahabang, Jumat 28 Juli 2007.

Menurutnya, kondisi tersebut mengancam tanaman padi miliknya yang baru berusia satu pekan. Waskam berharap, Pemkab Karawang menjamin ketersedian air untuk persawahan. Jika tidak, petani di wilayah utara Karawang itu akan mengalami gagal panen.

Petani melapor

Wakil Bupati Karawang, Jimmy Ahmad Zamakhsyari, membenarkan jika ancaman kekeringan mulai dirasakan para petani di wilayahnya. “Kami malam, saya kedatangan 50 petani dari Tempuran, Telagasari, dan Lemahabang. Mereka mengeluhkan debit air irigasi yang terus mengecil. Mereka juga melaporkan tentang sulitnya mendapatkan pupuk,” ujar Jimmy.

Para petani, lanjut Jimmy, mengaku mereka sudah menanam padi yang usianya berpariatif antara 7 hingga 120 hari. Jika pasokan air tersendat, kemungkinan besar tanaman padi tidak akan bisa tumbuh maksimal.

Menurut Jimmy, malam itu juga dirinya langsung menelefon Kepala Dinas Pertanian dan Direksi PT Pupuk Kujang Cikampek. Namun, jawabannya sangat mengecewakan, karena Kadistan Karawang, Hanafi, menyatakan belum ada ancaman kekeringan.

“Kepala Dinas Pertanian kok tidak tahu petani sedang resah kekurangan air. Padahal, mereka telah mengadu langsung kepada saya,” katanya.

Jimmy berharap Kadistan terjun langsung ke lapangan memantau ancaman kekeringan yang dirasakan masyarakat. Setelah itu, Kadistan harus secepatnya berkoordinasi dengan pihak PJT II agar suplai air ke wilayah Karawang tidak tersendat.

Solusi kekeringan

Di tempat terpisah, Kadistan Hanafi Chahniago kembali menyatakan, pasokan air untuk wilayah Kabupaten Karawang masih cukup. Kalaupun ada kekeringan, kemungkinan hanya terjadi ketimpangan dalam pembagian air di pintu air pembagi.

Namun demikian, lanjut Hanafi, Distan tetap mengantisipasi kekeringan dengan menyiapkan pompa untuk lahan pertanian di utara Karawang. “Kalau diperlukan kami bantu mesin pompa air,” kata Hanafi.

Dikatakan pula, saat ini Pemerintah telah menyiapkan dana subsidi bagi petani mengalami gagal panen. Pengantian 80 persen ditangguang pemerintah, dan 20 persen lagi dari dana CSR perusahaan.

Sementara itu Humas PT Pupuk Kujang Cikampek, Indra Gunawan meyebutkan kelangkaan pupuk yang dirasakan petani saat ini adalah jenis pupuk SP. Padahal, pupuk SP dipasok oleh Petrokimia Gresik,  bukan oleh PKC.

“Kasus kekurangan pupuk SP di Karawang sudah disampaikan Dirut Pupuk Kujang kepada Dirut Petrokomia Gresik,” ujar Indra Gunawan.

 

Sumber : pikiran Rakyat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here