Kabupaten Subang terancam mengalami “krisis” guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN). Kondisinya sudah “lampu kuning” dari kebutuhan sebanyak 8 ribu – 9 ribu guru ASN untuk SD dan SMP, saat ini jumlahnya kurang dari 6 ribu. Itu terjadi karena dua tahun terakhir guru ASN di Subang banyak yang sudah memasuki masa pensiun, sehingga jumlahnya terus berkurang.

“Dua tahun ke belakang banyak guru ASN yang pensiun, mereka belum ada gantinya karena rekrutmen ASN masih moratorium. Kami sudah menyampaikan hal ini ke Badan Kepegawaian dan SDM, kondisinya sudah lampu kuning. Kalau tahun 2018 atau dua tahun ke depan tak ada rekruitmen/pengangkatan ASN bisa-bisa terjadi krisis guru ASN,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang, Suwarna, Rabu 26 Juli 2017.

Dia mengatakan walaupun jumlah guru ASN terus berkurang tiap tahunnya, tetapi kegiatan belajar mengajar masih bisa berjalan normal. Itu dikarenakan adanya peran guru honorer. “Kami sangat berterima kasih, berkat pengabdian guru honorer belajar mengajar berjalan normal. Contohnya, di SD daerah Cimenteng ASN nya cuma 2 orang, yaitu kepala sekolah dan 1 guru. Sedangkan guru lainnya masih berstatus honorer,” ujarnya.

Pengangkatan

Dikatakannya, guru ASN yang akan memasuki masa pensiun tahun 2018 mencapai seribuan. Itu artinya jumlahnya akan semakin berkurang. Kondisi itu sudah disampaikan ke BKSDM, diharapkan bisa mengusulkan ke pusat untuk pengangkatan guru baru melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. “Pengangkatan guru ASN baru bisa melalui pengangkatan guru berstatus honorer Kategori 2 atau honorer yang sudah terdaftar di data base BKSDM dan Kemenpan-RB,” ujarnya.

Kepala BKSDM Kabupaten Subang, Nina Herlina, mengatakan usulan pengangkatan guru baru dari dinas pendidikan guna memenuhi kekurangan guru berstatus ASN itu merupakan sebuah hal yang wajar. Namun sampai saat ini belum ada keputusan dari Kemenpan-RB terkait pengangkatan guru baru berstatus ASN. “Kewenangannya kan di pusat. Kami belum mendapat informasi rekrutmen karena masih moratorium. Kalau ada pengangkatan ASN baru, kami berharap guru honorer bisa mendapatkan skala prioritas,” ujar Nina.

Nina mengungkapkan saat ini di Subang tercatat ada 6 ribuan pegawai honorer berstatus K2 yang sudah masuk database di pusat. Dari jumlah sebanyak itu, dua pertiga di antaranya guru honorer. “Mereka siap diangkat melalui testing atau melalui pengangkatan otomatis. Kami berharap Kemenpan-RB bisa segera merespon kondisi darurat guru ASN ini,” katanya.

 

Sumber : Pikiran Rakyat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here