Walaupun sesekali turun hujan di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, sejumlah petani tetap merasa pesimistis dengan hasil panen pertanian. Soalnya, air hujan yang turun tetap tak bisa memenuhi kebutuhan air di ladang. Sebagian petani malah memilih untuk membiarkan lahan tak ditanam.

Salah seorang petani, Usep Sujana (43) mengatakan, lahan pertanian miliknya seluas 2.800 meter persegi sudah dibiarkan tak ditanam sejak sekitar empat bulan lalu, karena sulit untuk mendapatkan pasokan air.

“Sekarang sudah banyak ditumbuhi ilalang. Sementara ini lahannya dibiarkan dulu, sampai tiba musim hujan,” kata Usep di Kampung Cicalung, Desa Wangunharja, Lembang, belum lama ini.

Menurut dia, tanah di ladang miliknya dapat ditanami berbagai jenis sayuran, asalkan ketersediaan air mencukupi. Namun, karena kesulitan untuk mengairi, maka dia memilih untuk membiarkan lahannya. Berada di atas sungai yang berjarak sekitar 350 meter, lahannya itu perlu diairi dengan menggunakan pompa.

“Sumber air untuk pertanian di Cicalung berasal dari Sungai Maribaya. Akan tetapi, keberadaan sungai itu tak menjamin pasokan air, karena harus pakai mesin pompa lagi. Buat petani kecil seperti saya, untuk membeli mesin pompa yang harganya sampai Rp 3 jutaan itu kan cukup berat,” katanya.

Dengan pompa air pun, imbuh dia, diperlukan lagi biaya untuk membeli bahan bakar, yang mencapai sekitar 5 liter per hari. Dengan alasan perlu pengeluaran yang lebih besar, Usep memilih untuk membiarkan lahannya. “Kalau tetap menanam juga rugi, karena sekarang ini banyak monyet yang selalu ganggu tanaman,” ujarnya.

Petani tunggu musim hujan

Petani asal Desa Mekarwangi, Lembang, Cahya (60) mengatakan bahwa tanaman brokoli yang dia tanam sudah tak bisa dipanen, karena hujan hanya turun sesekali. “Tanamannya sudah mati, karena pengairan tidak sampai ke sini. Percuma dipanen juga. Lebih baik menunggu musim hujan,” katanya.

Menurut dia, kebutuhan air selama untuk pertaniannya selama ini hanya memanfaatkan air tadah hujan. Soalnya, di sekitar lahan pertaniannnya tak tersedia sumber air. “Masih untung lahan yang ditanam cabai bisa dipanen, tapi tanamannya cuma sedikit, tidak seperti tanaman brokoli,” katanya.

Cahya mengatakan, setiap musim kemarau dirinya praktis mengalami gagal panen. Meski begitu, dia menilai bahwa dampak kemarau kali ini lebih parah dibandingkan tahun lalu. “Dari awal tanam, butuh sekitar 80 hari hingga ke masa panen. Sekarang sudah sekitar 60 hari, berarti tinggal sebulan lagi panennya,” katanya.

Petani lainnya, Tarsih (62) menyatakan pengalaman yang serupa. Dia lebih memilih menunggu musim hujan tiba dan membiarkan lahannya kosong. “Kerugian yang saya alami enggak terlalu banyak, karena kebunnya juga enggak luas. Kalau sudah musim hujan, rencananya nanti mau dicoba menanam tomat dan cabai. Semoga hasilnya memuaskan,” katanya.

 

Sumber : Pikiran Rakyat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here