Kapolda Jawa Barat (Jabar) Irjen Pol Anton Charliyan memang memiliki perhatian yang besar dalam pengembangan kebudayaan Sunda, berikut kontribusinya dalam memperkuat rasa kebangsaan. Salah satu bukti perhatian itu adalah digelarnya Sawala Kebangsaan di Bumi Kiara Payung, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang mulai Jumat (11/8) hingga Minggu (13/8).

Kegiatan yang bertajuk Sawala Kebangsaan Indonesia Nation Spirit Masyarakat Adat dan Budaya Sunda 2017 itu diikuti oleh 880 budayawan. Sebanyak 22 Polres Kota dan Kabupaten yang ada di Jawa Barat juga turut berpartisipasi dalam Sawala ini.

Sawala sendiri merupakan istilah dalam bahasa Sunda. Arti istilah ini adalah kegiatan diskusi atau tukar pikiran untuk memahami suatu persoalan dan mencari pemecahan masalahnya.

Kapolda mengatakan, sawala ini merupakan upaya pihaknya merangkul tokoh adat dan budaya Tatar Sunda demi memperkuat kebudayaan Sunda. Menurutnya, kebudayaan dapat menjadi solusi darii beragam permasalahan kebangsaan di negeri ini umumnya, dan Tatar Sunda khususnya.

Salah satu permasalahan yang bisa ditanggulangi oleh budaya Sunda adalah terorisme dan radikalisme. Sebab,kebudayaan Sunda sangat kental dengan nuansa toleransi antar manusia, termasuk antar agama dan keyakinan. Sehingga pastinya kebudayaan Sunda bisa menangkal ideologi-ideologi radikal yang menjadi pangkal radikalisme dan terorisme.

Kapolda menegaskan di depan ratusan peserta Sawala Kebangsaan bahwa Indonesia sedang terancam hancur dengan adanya muncul berbagai gerakan radikal dan intoleran. Diantara gerakan radikal itu ada yang mempromosikan Khilafah dan mengancam NKRI.

Menurut Anton, apabila Indonesia menjadi Khilafah, maka negeri ini akan pecah. Lagu dari Sabang Sampai Merauke pun akan berubah menjadi dari Medan sampai Madura. Sebab, daerah-daerah yang dihuni mayoritas masyarakat non Muslim pasti akan memisahkan diri.

Untuk itu, Anton meminta kepada seluruh peserta Sawala Kebangsaan agar terus menjaga NKRI dan Pancasila dari kehancuran akibat kemunculan gerakan radikal yang ingin Indonesia menjadi negara Khilafah. Anton berharap agar setelah kegiatan itu, para tokoh adat dan budaya Sunda bisa memberikan semangat cinta tanah air, nasionalisme, toleransi dan anti radikalisme pada masyarakat.

Gagasan Kapolda Anton, bahwa kebudayaan Sunda bisa menangkal radikalisme ini sejatinya menunjukkan pengetahuannya yang mendalam akan kesundaan. Faktanya, ketika masa kerajaan Pajajaran masih berjaya di Tatar Sunda, toleransi antar agama sangat dijaga.

Sejarah mencatat, meskipun para petinggi kerajaan dan mayoritas rakyat Pajajaran menganut agama Sunda Buhun, namun mereka tidak menolak tatkala Hindu, Budha dan Islam masuk ke Jawa Barat. Bahkan salah satu istri Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja yang bernama Nyi Subanglarang beragama Islam, demikian juga dengan ketiga orang anaknya dari istri tersebut.

Kebebasan beribadah pun dijunjung tinggi. Orang Hindu diberikan kebebasan mendirikan sarana peribadatan. Demikian juga dengan umat Islam.

Maka, ketika kini beberapa data menunjukkan tingkat intoleransi di Jawa Barat selalu tinggi, hal itu menunjukkan betapa kebudayaan Sunda warisan leluhur sudah tidak dihayati dan diaplikasikan lagi. Oleh sebab itulah, Kapolda Anton memahami pentingnya peran para budayawan dan tokoh adat Sunda dalam membumikan lagi kebudayaan Sunda. Dengan begitu, radikalisme dan intoleransi pun bisa dihalau dari Tatar Sunda.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here