Hampir tiga pekan mendapat Piala Adipura, wajah Kota Depok tercoreng tumpukan sampah yang bertebaran di sepanjang Jalan Margonda Raya. Tumpukan sampah di kawasan jantung kota tersebut merupakan imbas aksi mogok yang kembali dilakukan sopir truk pengangkut sampah TPA Cipayung.

Pantauan “PR” Selasa, 22 Agustus 2017 siang, tumpukan sampah yang dibungkus berbagai plastik terlihat sepanjang Margonda. Tak hanya trotoar, plastik-plastik sampah juga ditaruh di separator jalan. Kondisi tersebut membuat kawasan yang menjadi denyut nadi ekonomi dan keramaian warga itu menjadi kumuh. Padahal, Depok Baru saja meraih Adipura 2017 dalam kategori kota metropolitan. Sejumlah warga juga mengeluhkan keadaan tersebut.

“Dari ujung ke ujung (Margonda) masa kotor lagi,” kata Salim, juru parkir asal Kemirimuka, Depok. Salim menilai, kotornya Margonda tak pantas bagi Depok sebagai peraih Adipura.

Apalagi Margonda merupakan jalan utama yang menjadi lokasi Kantor Pemkot Depok dan pusat ekonominya. “Lagi pula ini jalan utama. Harusnya dijaga lagi (kebersihannya) supaya dapat lagi (Adipura) tahun depan,” ujarnya.

Menurut Salim, timbunan sampah mulai bermunculan saat Selasa pagi. Salim tak mengetahui siapa yang menaruh tumpukan sampah sepanjang Margonda tersebut. Akibat kondisi itu, Salim mesti kerja ekstra dengan membantu membereskan timbunan sampah di trotoar.

Keluhan senada dilontarkan warga Kemirimuka lainnya, Winarto. Pria yang berprofesi sebagai penjual makanan di tepi Margonda tersebut menampik dugaan warga sekitarlah yang menaruh tumpukan sampah. Warga, tutur Winarto, tak akan berani membuang atau meletakan sampah sembarangan di jalan karena adanya ancaman denda. Penarikan sampah, lanjutnya, juga telah dilakukan secara kolektif di masing-masing kawasan pemukiman. Warga pun membayar retribusi atas jasa penarikan sampah itu.

Winarto menduga aksi penimbunan sampah Margonda terkait unjuk rasa dan mogok para sopir truk TPA Cipayung yang berlangsung di hari yang sama. Sampah ditengarai dibiarkan bertebaran dan menumpuk di kawasan utama Depok sebagai cara agar tuntutan mereka dipenuhi Pemkot.

Winarto meminta Pemkot memperhatikan tuntutan agar para pekerja penarikan sampah bisa lebih sejahtera. Pasalnya, para pekerja tersebut ikut berperan saat Depok meraih Adipura untuk pertama kalinya.

Aksi mogok truk pengangkut menjalar pula ke Pasar Kemirimuka. Pengawas Pengangkutan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Pasar Kemirimuka Mustakim membenarkan tidak adanya pengangkutan sampah di pasar tersebut. Normalnya, pengangkutan sampah pasar ke TPA Cipayug dilayani lima unit truk. Kini, penarikan sampah sampah pasar tradisional itu lumpuh setelah truk hanya terpakir saja.

Mustakim khawatir aksi mogok bakal berlarut – larut. “Yang dikhawatirkan besok – besok karena belum ada kepastian pengangkutan,” ujarnya. Bila mogok terus terjadi, timbunan sampah pasar bakal semakin tinggi.

Tuntut uang lembur

Di tempat terpisah, Kepala Unit Pengelola Teknis TPA Cipayung Iyay Gumilar menyatakan, mogoknya para sopir masih terkait dengan aksi serupa sebelumnya. “Tuntutannya minta uang lembur kaya kemarin,” ujar Iyay.

Para sopir menuntut uang lembur dibayarkan penuh dari Januari hingga Desember 2017. Sedangkan Pemkot membayar lembur setengahnya terlebih dahulu sesuai jam kerja para pengemudi. Dari Januari sampai Juli, kata Iyay, uang lembur telah dibayar pada Agustus. Dari Agustus hingga Desember, pembayaran dilakukan pada akhir tahun. “Kan lembur itu kerja dulu baru dibayarkan,” ujarnya.

Pandangan berbeda dikemukakan sopir yang menganggap lembur merupakan gaji ketiga belas yang harus dibayar penuh. Iyay mengakui sempat ada keterlambatan pencairan uang karena proses administrasi yanng mesti ditempuh.

Perbedaan pandangan membuat para sopir menggeruduk Kantor UPT TPA Cipayung, Selasa pagi. Mereka enggan menjalankan truknya dan meminta bertemu dengan bagian pengangkutan sampah DLHK Depok. Audiesi pun digelar guna mencari kesepakatan.

Iyay turut berharap aksi mogok segera selesai setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan. Menurutnya, timbunan sampah bisa teratasi selepas truk – truk kembali beroperasi dengan ritase yang ditambah. Seperti diketahui, aksi mogok sopir juga terjadi pada Senin, 14 Agustus 2017.

 

Sumber : Pikiran Rakyat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here