Sebagai putra Pasundan, Mayjen (Purn) TNI Tubagus Hasanuddin sangat peduli pada pengembangan budaya Sunda. Tak aneh, sebab sang ayah adalah guru sekaligus pendiri padepokan pencak silat, yang merupakan seni bela diri Sunda di desa Talaga, Majalengka.

Demikian intimnya pria yang akrab disapa Kang Hasan ini dengan budaya Sunda, hingga kapanpun dirinya mendengarkan alunan musik kendang dan suling, tubuhnya tak bisa ditahan untuk melancarkan gerakan ibing pencak silat. Ia juga mahir memainkan kendang.

Kecintaan akan budaya Sunda yang tertanam sejak kecil membuat Kang Hasan konsisten mengembangkan budaya dari tanah kelahirannya itu. Bahkan, ketika Kang Hasan mengabdi pada negara melalui jalur militer dan politik pun, konsistensinya tak pernah luntur.

Hal itu tampak tatkala ia masih berpangkat Letnan Kolonel, Tubagus Hasanuddin sudah menangani Yayasan Miss Tjitjih. Yayasan tersebut adalah sebuah organisasi yang dibentuk untuk menghormati Miss Tjitjih perjalanan pemain sandiwara terkenal asal Sumedang.

Kelompok sandiwara Miss Tjitjih hingga kini masih mempertahankan pentas sandiwara berbahasa Sunda. Kang Hasan bertanggung jawab atas pelestarian dan pembinaan kelompok ini. Ia membangun fasilitas gedung bagi kelompok ini di Jakarta khusus untuk kepentingan pentas dan pelatihan.

Demikian besar perhatiannya pada kelompok sandiwara ini. Hingga ketika kelompok ini memasuki masa sulit pada  2017, tatkala bantuan dari pemerintah terhenti, Kang Hasan mengingatkan pada pemerintah untuk terus memperhatikan kesejahteraan para Yayasan Miss Tjitjih.

Selain kelompok sandiwara Miss Tjitjih, Kang Hasan juga turut mengembangkan seni budaya Sunda lainnya, yakni Pencak Silat. Ia tercatat sebagai Ketua Dewan Penasehat Persatuan Pencak Silat Gagak Lumayung.  ‘Darah’ pesilat dari ayahanda masih kental dalam diri Kang Hasan.

Kang Hasan juga mengembangkan seni budaya Sunda melalui Dewan Pangaping Paguyuban Pasundan dan Lingkung Seni Gentra Ewangga. Ia juga menangani bidang seni budaya di Yayasan Pembangunan Jabar.

Pengembangan budaya Sunda yang dilakukan oleh calon gubernur Jawa Barat dukungan PDI Perjuangan ini menunjukkan jiwanya yang nyunda. Nyunda, bukan hanya berasal dari suku Sunda. Nyunda berarti juga turut serta menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi pengembangan budaya Sunda.

Apabila ada orang dari suku Sunda yang tak peduli pada pengembangan budaya Sunda, maka ia tak layak disebut Nyunda. Dan faktanya, Kang Hasan sudah membuktikan dirinya tidak hanya sekedar ‘berdarah’ Sunda, tapi juga berjiwa ‘nyunda’.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here