Pembunuhan Ustadz H. Prawoto, Komandan Brigade Pengurus Pusat Persatuan Islam (PP Persis) oleh tetangganya yang bernama Asep Maftuh di Bandung telah dimanfaatkan pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk menebar fitnah. Media sosial, lagi-lagi menjadi wahana menebar fitnah.

Seorang netizen yang menggunakan akun @adhie83201584 mengabarkan bahwa pelaku pembunuhan Ustadz Prawoto adalah orang gila berbaju PDIP (PDI Perjuangan) dan sedang diproses.

“Pembunuh ust. Prawoto yang dikabarkan Orang Gila berbaju PDIP ini sudah tertangkap, pelaku masih dlm proses. #info A1,” tulis akun tersebut pada Kamis (1/2).

Kabar bahwa pelaku adalah orang gila ‘berbaju PDIP’ pun disebarluaskan oleh beberapa media online. Tujuannya tampak jelas, ingin mengaitkan peristiwa pembunuhan tersebut dengan PDIP melalui baju yang kebetulan dikenakan pelaku.

PDIP pun tak tinggal diam. Menanggapi hal tersebut, Ketua DPC PDI-P Kota Bandung yang juga ketua DPRD Kota Bandung Isa Subagja menegaskan, jika pelaku bukanlah kader PDI-P.

Menurut Isa, dikenakannya kaos PDIP oleh pelaku sama sekali tidak bisa dijadikan bukti bahwa pelaku adalah kader PDIP. Sebagai penderita gangguan mental, bisa saja pelaku menggunakan kaos apa saja. Apalagi kondisi kaos yang dikenakan sudah rusak.

“Yang bersangkutan (pelaku) kan gangguan mental. Dan yang kedua soal kaos, kan siapapun juga bisa menggunakan kaos, dan kenapa bisa saya yakinkan yang bersangkutan bukan kader, karena memang kami juga tidak mengenali,” ujar Isa di Mapolrestabes Bandung, Jumat (2/2).

Jutsru beredarnya foto pelaku menggunakan kaos PDIP menunjukkan betapa kasus pembunuhan yang memilukan ini telah dipolitisasi oleh orang-orang yang tak punya hati nurani. Padahal, musibah yang menimpa Ustadz H Prawoto ini murni sebuah tindak kriminal.

“Saya tidak melihat kasus ini bermuatan politis. Dokter sendiri menjelaskan bahwa yang bersangkutan gangguan kejiwaan, saya kira tidak ada pelaku politik mengalami gangguan jiwa, semua waras,” ujar Isa.

Bahkan, keluarga tersangka maupun masyarakat sekitar tempat tinggal tersangka juga membenarkan kalau tersangka sehari hari berperilaku sangat mengganggu dan tidak terkontrol emosinya. Jadi, sangat tidak mungkin apabila pelaku adalah kader sebuah partai politik.

Lebih lanjut, Isa juga menegaskan tidak mungkin di tahun politik ini ada partai yang merencanakan aksi kriminal keji semacam itu. Justru semua partai politik harus berlomba-lomba mencari dukungan dan simpati publik.

” Tidak mungkin pada situasi yang begini, ketika kita sedang Pilkada ingin mencari dukungan dan simpati sebanyak-banyaknya tiba-tiba melakukan dengan sengaja tindak kriminal itu, itu sangat di luar logika,” ujarnya.

Isa menegaskan bahwa PDIP berpandangan kasus ini tidak harus menjadi isu atau fitnah yang melebar keluar dari persoalan sesungguhnya. Karena hal itu dapat mengganggu ketenangan dan kerukunan antar sesama warga. Apalagi bila sampai dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang bertujuan mengganggu pelaksanaan pilkada, baik itu Pilgub dan Pilwalkot pada tahun ini.

“Kami meminta kepada pihak kepolisian untuk menindak dengan tegas kelompok-kelompok yang memanfaatkan persoalan ini untuk tujuan jahat, memecah belah warga yang muaranya ditujukan untuk kepentingan Pilgub dan Pilwalkot 2018,” tegasnya.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here