Ketua BEM UI Zaadit Taqwa kini kian dipuja-puja dan dijadikan contoh mahasiswa masa kini oleh kaum oposisi atas “keberanian” nya berdiri mengacungkan kartu kuning di ujung pidato Presiden di Kampusnya.

Bahkan, CEO AMI Foundation Azzam M Izzulhaq memujinya setinggi langit dan menyebutnya sebagai mahasiswa pejuang, serta calon pemimpin bangsa dan negara. Tak hanya itu, Azzam juga menawari Zaadit undangan beribadah umroh sebagai apresiasi kepada pemuda “pemberani” pengkartu kuning Presiden yang meneriakkan solidaritas kekurangan gizi rakyat di Asmat itu.

Hal itu mengundang tanggapan Ahmed Zain Oul Mottaqin, penulis media sosial. Ahmed mengkritisi kenyataan, ketika mahasiswa yang hanya memberi kartu kuning dianggap lebih berjasa dibandingkan mereka yang sudah bekerja nyata.

“Hanya berdiri, menyemprit, mengkartu kuning Presiden tanpa sepatah kata lalu beritanya viral dimana-mana, ia dipuja bak pahlawan dan mendapat hadiah umroh gratis oleh sesama pembenci Presiden. Kalau boleh saya hanya ingin tanya pada pak Azzam, apa anda tidak tahu disaat Ketua BEM Universitas terkenal di Depok ini baru berlagak menyemprot Presiden soal Asmat, UGM sudah mengirim dua gelombang Disaster Response Unit (Deru) sejak 24 Januari lalu untuk membantu penanganan gizi buruk di Kab. Asmat tanpa pakai pamer?” ujar Ahmed di akun Facebooknya, Minggu (4/2).

Ahmed bertanya, adakah di antara mereka yang telah berbuat nyata untuk Asmat itu ingin di umrohkan oleh Azzam. Karena dalam pandangan Ahmed, mereka lebih pantas untuk dihadiahi umroh karena kerja senyap mereka jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat Asmat daripada aksi cari sensasi di kampus ala Ketua BEM.

Ahmed juga bertanya, adakah penghargaan dari Azzam terhadap Universitas Hasanuddin Makassar yang memberangkatkan 19 orang tim tanggap darurat ke Kabupaten Asmat yang terdiri dari dokter senior dengan berbagai bidang (gizi, penyakit dalam, obgyn, gigi), perawat, serta 6 orang profesor dari berbagai bidang ilmu.

“Apa mereka pakai koar-koar? Tidak! Mereka sibuk berbuat tanpa mencari kambing hitam. Mereka sadar menyalakan lilin lebih penting daripada sibuk mengutuk gelap. Ya, meskipun mengutuk gelap itu lebih mendatangkan sensasi dan pujian daripada yang langsung berangkat ke Asmat dalam senyap,” ujar Ahmed.

Dan akhirnya, Ahmed pun menemukan jawaban dari semua pertanyaannya itu. Ia berkesimpulan, tawaran umroh itu muncul bukan karena Zaadit menyuarakan solidaritas gizi buruk di Kabupaten Asmat, tapi karena ia berani ‘mempermalukan’ Jokowi di depan umum.

“Inilah negaraku. Negeri dimana sensasi lebih dipuja daripada kerja dan kerja. Lagipula saya yakin para pejuang UGM dan Unhas itu juga masih terlalu sibuk membantu masyarakat Asmat sehingga belum terpikir untuk umroh,” ujar Ahmed.

Ahmed pun mengingatkan, hanya satu orang yang menawarkan tawaran sesuai dengan yang disuarakan Zaadit. Orang itu adalah Presiden Jokowi. Ya, Jokowi memang menawarkan pada Zaadit dan teman-teman BEM UI  ke Asmat untuk melihat kondisi nyata di sana.

Presiden Jokowi seakan ingin berkata “Dek pertanggungjawabkan apa yang kalian kritik”, dengan meminta Zaadit melihat sendiri situasi di lapangan. Jokowi pun seakan ingin Zaadit dan kawan-kawan melihat apa yang sudah pemerintah lakukan beberapa tahun belakangan untuk membuka akses geografis ke wilayah yang dihuni masyarakat Asmat.

“Bila anda menyuarakan tentang Asmat maka pergilah ke Asmat. Jangan bak pahlawan kesiangan menyuarakan gizi buruk rakyat Asmat tapi perginya malah ke Saudi untuk umroh,” kata Ahmed.

Ahmed berharap Zaadit dan kawan-kawan mengetahui bahwa kerja nyata itu tak semudah bicara, kritik, adu debat dan sok vokal di forum-forum kampus. Ahmed juga berharap agar Zaadit tidak melupakan tugas utamanya sebagai mahasiswa.

“Jangan lupa selesaikan dulu mata kuliah Fiskom 2 semester kemarin yang kata temanmu di MIPA UI, nilainya Nol karena tidak mengerjakan tugas sama sekali. Fokus pada tugas utamamu sebagai mahasiswa sebelum komentari orang lain, kasihani orangtuamu ya dek. Kuliah itu ga murah, apalagi di UI,”  seru Ahmed.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here