Mayjen (Purn) Sudrajat yang kini merupakan calon Gubernur (Cagub) Jawa Barat (Jabar) dukungan Partai Gerindra dan PKS ternyata memiliki rekam jejak menarik. Rekam jejak itu adalah ‘pembangkangan’ terhadap Presiden sekaligus panglima tertinggi TNI.

Seperti dikutip dari buku karya Malik Haramain berjudul Gus Dur, Militer dan Politik, (LKiS, 2004; hal 238), salah satu tokoh militer reformis, Agus Wirahadikusuma pernah mengatakan bahwa Sudrajat tidak memahami rambu-rambu profesionalitas tentara. Sebabnya adalah Sudrajat mengkritik pendapat Gus Dur tentang Presiden sebagai penguasa tertinggi AD, AL, AU, dan Kepolisian.

Dan kritikan Sudrajat itu dinyatakan di hadapan publik. Padahal saat itu Gus Dur merupakan Presiden yang juga sekaligus Panglima Tertinggi TNI.

Tentu hal ini menimbulkan kontroversi. Sebab saat itu dirinya adalah seorang prajurit TNI yang tidak sepantasnya menghina Presiden selaku panglima tertinggi di hadapan publik.

Bukan tanpa sebab, bila Sudrajat mengkritik Gus Dur secara terbuka. Kritikan itu dipicu oleh pencopotan dirinya selaku Kapuspen TNI. Tapi tetap saja tindakan Sudrajat itu dipandang tidak etis oleh banyak pihak.

“Dalam tataran demokratis, tentara itu tidak bisa mengkritik dan menyalahkan Presidennya. Dan, dia hanya Kapuspen, kalau perlu diserahkan saja pada panglima melalui jalur semestinya, jangan lewat publik,” kata Agus.

Kritikan Sudrajat kepada Gus Dur ini telah mengungkapkan jati diri sesungguhnya dari purnawirawan jenderal ini. Ternyata dirinya pernah melakukan insubordinasi atau pembangkangan pada pemimpin tertinggi angkatan bersenjata. Dan insubordinasi itu dilakukan terhadap Gus Dur, ulama besar yang sangat dihormati warga NU.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here