Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) menginstruksikan anggota Banser turun mengamankan gereja di Sleman maupun di Yogyakarta. Hal ini guna mencegah terjadinya penyerangan oleh kelompok intoleran sebagaimana yang terjadi pada Gereja St. Lidwina, Sleman, Yogyakarya, Minggu (11/2).

“Saya instruksikan Banser berkoordinasi dengan aparat kepolisian ikut membantu mengamankan tempat-tempat ibadah, termasuk gereja yang di Sleman dan Yogyakarta,” katanya.

Seperti diketahui, penyerangan di Gereja St. Lidwina, Sleman, Yogyakarya, terjadi pada Minggu pagi saat misa tengah berlangsung. Penyerang diketahui bernama Suliyono, seorang mahasiswa berusia 23 tahun.

Pria asal Banyuwangi ini membawa pedang dan melukai empat orang yang tengah beribadah di dalam gereja. Polisi pun menembak pelaku karena terus menyerang jemaat dan petugas.

Gus Yaqut mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus penyerangan terhadap jemaah Gereja St. Lidwina tersebut. Yaqut menduga ada motif atau agenda setting atas serangkaian aksi teror belakangan ini.

“Kami minta aparat kepolisian usut tuntas kasus ini dan apa motifnya di belakangnya. Jangan asal dibilang pelakunya diduga gila. Masak dari semua kejadian pelakunya gila semua. Aneh,” tegas Yaqut, di sela acara Diklat Terpadu Dasar Pimpinan Cabang GP Ansor Korea Selatan, di Stella Marina Hotel, Incheon, Korea Selatan, Minggu (11/2).

Gus Yaqut tidak yakin pelaku benar-benar gila. Apalagi kasus teror ini terjadi tidak berselang lama dan menimpa tokoh agama, mulai dari tokoh NU, Persis, Bhiksu di Tangerang, dan sekarang umat Katholik di Sleman.

“Kalau menurut saya, pelaku memang gila, tapi bukan secar psikologis atau fisik, tapi tergila-gila agama. Pelaku gila karena pemahaman agama yang salah,” tandasnya.

Gus Yaqut mengatakan, menurut info yang diterima pihaknya, pelaku teror di Gereja St. Lidwina yang bernama Suliyono tersebut, terindikasi mulai terpapar radikalisme agama pasca Pilkada DKI Jakarta. Pelaku diketahui juga sebagai mahasiswa dan menjadi santri di Pondok Pesantren Sirojul Muhlisin, Topo Lelono, Secang, Magelang, Jawa Tengah.

Menurut Gus Yaqut, dengan latar belakang pelaku seperti itu, jelas ada motif di balik serangkaian kasus teror belakangan ini. Selain motif agama, lanjut dia, sangat mungkin ada motif politik di belakangnya.

“Sebab itu, sekali lagi saya minta aparat mengusut tuntas kasus ini, termasuk kasus-kasus sebelumnya. Saya ingatkan kepada pihak-pihak di luar sana, jangan macam-macam terhadap Indonesia, jangan ganggu Indonesia. Kita akan lawan setiap upaya yang mengancam Indonesia,” tegasnya.

Gus Yaqut mengatakan, dengan sumber daya dan informasi yang dimiliki, GP Ansor juga sedang berupaya mencari motif sebenarnya dari peristiwa tersebut. Bagi GP Ansor, hal ini merupakan masalah serius.

“Aparat harus tuntas usut semua kasus tersebut jangan sampai tercipta instabilitas,” ujar Gus Yaqut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here